Mengenal Makna Filsafat Pendidikan

Filsafat merupakan suatu pendekatan untuk mengetahui hakekat sesuatu sampai ke akar atau berpikir sampai ke akar. Maka dari itu filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan (the mother of sciences) yang mampu menjawab segala pertanyaan dan permasalahan. Mulai dari masalah-masalah yang berhubungan dengan alam semesta hingga masalah manusia dengan segala problematika dan kehidupannya.

Filsafat dalam menyelesaikan seluruh problema dalam kehidupan manusia di dasarkan pada pengalaman kehidupan manusia pada zaman dahulu atau sebelumnya, sehingga dibutuhkan suatu unsur komplementer dalam melengkapi filsafat tersebut yaitu pendidikan. Karena pada hakikatnya, pendidikan digunakan untuk mendewasakan manusia. Sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa filsafat dan pendidikan harus saling melengkapi satu sama lain, karena kedua unsur tersebut tidak bisa berdiri sendiri dalam memecahkan problema kehidupan manusia. Hal ini sejalan dengan pendapat dari John Dewey, seorang filosof Amerika, filsafat merupakan teori umum dan landasan pertanyaan dan menyelidiki faktor-faktor realita dan pengalaman yang terdapat dalam pengalaman pendidikan (Imam Barnadib, 1990 : 15). Maka munculah filsafat pendidikan, yang berusaha menjawab dan memecahkan persoalan-persoalan pendidikan yang bersifat filosifis dan memerlukan jawaban secara filosofis juga.

Kemunculan filsafat pendidikan ini disebabkan banyaknya perubahan dan permasalahan yang timbul di lapangan pendidikan yang tidak mampu dijawab oleh ilmu filsafat. Ditambah dengan banyaknya ide-ide baru dalam dunia pendidikan yang berasal dari tokoh-tokoh filsafat Yunani. Filsafat pendidikan akan memberikan arah perjalanan kemajuan pendidikan dan sekaligus mengoreksi kekurangan dan kelebihannya guna mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan.

Menurut Muhammad Noor Syam (1988:22) ruang lingkup filsafat adalah semua lapangan pemikiran manusia yang komprehensif. Segala sesuatu yang mungkin ada dan benar-benar ada (nyata), baik material konkret maupun nonmaterial (abstrak). Jadi, objek filsafat itu tidak terbatas.
Secara makro, apa yang menjadi objek pemikiran filsafat yaitu permasalahan kehidupan manusia, alam semesta, dan alam sekitarnya, juga merupakan objek pemikiran filsafat pendidikan. Namun secara mikro, ruang lingkup filsafat pendidikan meliputi :

  1. Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan (the natureof education);
  2. Merumuskan sifat hakikat manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan (the nature of man);
  3. Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan;
  4. Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, dan teori pendidikan;
  5. Merumuskan hubungan antara filsafat Negara (ideology), filsafat pendidikan dan politik pendidikan (system pendidikan);
  6. Merumuskan system nilai norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan

Memperhatikan ruang lingkup filsafat yang begitu luas, maka para ahli pun membatasi ruang lingkupnya. Menurut Will Durant (Hamdani Ali, 1986:7-8), ruang lingkup studi filsafat itu ada lima : Logika, estetika, etika, politik, dan metafisika.

  1. Logika. Studi mengenai metode-metoe ideal mengenai berpikir dan meneliti dalam melaksanakan observasi, introspeksi, dedukasi dan induksi, hipotensis dan analisis eksperimental dan lain-lain, yang merupakan bentuk-bentuk aktivitas manusia melalui upaya logika agar bisa dipahami.
  2. Estetika. Studi tentang bentuk dan keindahan atau kecantikan yang sesungguhnya dan merupakan filsafat mengenai kesenian.
  3. Etika. Studi mengenai tingkah laku yang terpuji yang dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang nilainya tinggi. Menurut sacrotes, bahwa etika sebagai pengetahuan tentang baik, buruk, jahat dan mengenai kebijaksanaan hidup.
  4. Politik. Suatu studi tentang organisasi sosial yang utama dan bukan sebagaimana yang diperkirakan orang, tetapi juga sebagai seni pengetahuan dalam melaksanakan pekerjaan kantor. Politik merupakan pengetahuan mengenai organisasi sosial seperti monarki, aristokrasi, demokrasi, sosialisme, markisme, feminisme, dan lain-lain, sebagai ekspresi actual filsafat politik.
  5. Metafisika. Suatu studi mengenai realita tertinggi dari hakikat semua benda, nyata dari benda (ontologi) dan dari akal pikiran manusia (ilmu jiwa filsafat) serta suatu studi mengenai hubungan kokoh antara pikiran seseorang dan benda dalam proses pengamatan dan pengetahuan (epistemologi)

Menurut Imam Barnadib (194:20), filsafat sebagai ilmu yang mempelajari objek dari segi hakikatnya, memiliki beberapa problema pokok, antara lain : realita, pengetahuan dan nilai.

  1. Realita, yakni kenyataan yang selanjutnya mengarah kepada kebenaran, akan muncul bila orang telah mampu mengambil konklusi bahwa pengetahuan yang diperoleh tersebut memang nyata. Realita dibagi oleh matafisika;
  2. Pengetahuan, yakni yang menjawab pertanyaan-pertanyaan, missal apakah pengetahuan, cara manusia memperoleh dan menangkap pengetahuan tersebut, dan jenis-jenis pengetahuan. Pengetahuan dibagi oleh epistemologi;
  3. Nilai, yang dipelajari oleh filsafat disebut aksiologi. Pertanyaan-pertanyaan yang dicari jawabannya, misalnya nilai yang bagaimana yang diingini manusia sebagi dasar hidupnya.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan, yang menjadi ruang lingkup filsafat pendidikan adalah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakekat pendidikan itu sendiri, yang berhubungan dengan bagaimana pelaksanaan pendidikan yang baik dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang dicita-citakan melalui aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

1. Aspek Ontologi Filsafat Pendidikan

Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang berasal dari bahasa Yunani yaitu “ontos” dan “logos”. Ontos berarti sesuatu yang berwujud (being) dan logos berarti ilmu. Jadi ontologi adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hukum sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis seperti Thales, Plato, dan Aristoteles.

Di dalam pendidikan, pandangan ontologi secara praktis, akan menjadi masalah yang utama. Membimbing peserta didik untuk memahami realita dunia dan membina kesadaran tentang kebenaran yang berpangkal atas realita itu yang merupakan stimulus untuk menyelami kebenaran itu. Dengan sendirinya potensi berpikir kritis peserta didik untuk mengerti kebenaran itu telah dibina. Di sini kewajiban pendidik adalah untuk membina daya pikir yang tinggi dan kritis tentang ontologi filsafat pendidikan mengenai semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakekat pendidikan mulai dari pengertian, objek, tujuan, aliran, fungsi dan peranan pendidikan sehingga dapat dicapai seperti yang dicita-citakan.

1.1 Pengertian Filsafat Pendidikan

Filsafat diambil dari kata philosohia atau philoshopos dari bahasa Yunani yang diartikan sebagai cinta dan kebijaksanaan. Secara simpel, pengertian filsafat atau filosofi adalah cinta pada pengetahuan (ilmu pengetahuan) dan kebijksanaan. Sedangkan menurut Hasan Shadini dalam Jalaludin (1997:9), Filsafat adalah cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan. Sedangkan menurut Imam Barnadib dalam Jalaludin (1997:9), Filsafat sebagai pandangan yang menyeluruh dan sistematis.

Jadi dapat disimpulkan filsafat diartikan sebagai cara berpikir atau pandangan yang sistematis, menyeluruh, dan mendasar tentang suatu kebenaran.
Sementara menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Wikipedia Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Dari pernyataan diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Dari pengertian filsafat dan pendidikan diatas yang dimaksud dengan filsafat pendidikan menurut Al-Syaibany (1979: 36) yaitu aktifitas pemikiran yang teratur yang filsafat tersebut sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Sementara menurut John Dewey dalam Jalaludin (1997:13 ) Filsafat pendidikan merupakan suatu pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya pikir maupun daya perasaan, menuju kearah tabiat manusia maka filsafat bisa juga diartikan sebagai teori umum pendidikan.

Dengan demikian dapat kita tarik kesimpulan filsafat pendidikan adalah suatu aktivitas yang teratur yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan.

1.2 Objek Filsafat Pendidikan

Objek filsafat dapat berwujud suatu barang atau dapat juga subjek itu sendiri. Filsafat pendidikan lebih menekankan pada upaya perenungan yang utuh dan terpadu dapat ditemukan kebenaran-kebenaran dan kebijakan-kebijakan yang berguna bagi kemajuan dunia kependidikan itu sendiri. Realitas kependidikan terkait dengan upaya-upaya sistematis dan terprogram untuk menjadikan subjek-subjek didiknya menjadi manusia idaman sebagaimana yang diinginkan. Spirit pendidikan di sini berada pada aktivitas pembelajaran. Kondisi ini meniscayakan filsafat pendidikan pun tentu juga akan mengonsentrasikan dirinya untuk menganalisis berbagai kemungkinan langkah yang dapat ditempuh oleh semua subjek yang terkait agar segala yang diupayakannya benar-benar efektif dan efisien untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang diinginkan.

Berdasarkan itu semua, maka realitas-ralitas kependidikan yang menjadi objek filsafat pendidikan antara lain menyangkut hal-hal yang berkenaan dengan :

  1. Hakikat manusia ideal sebagai acuan pokok bagi pengembangan dan penyempurnaan
  2. Pendidikan dan nilai-nilai yang dianut sebagai suatu landasan berpikir dan berbuat dalam tatanan hidup suatu masyarakat
  3. Hakikat tujuan kependidikan sebagai arah bangun pengembangan pola dunia kependidikan
  4. Hakikat pendidik dan anak didik sebagai subjek-subjek yang terlihat langsung dalam pelaksanaan proses edukasi.
  5. Hakikat pengetahuan dan nilai sebagai aspek penting yang dikembangkan dalam aktivitas pendidikan

Dengan demikian dari uraian tersebut diperoleh suatu kesimpulan bahwa yang menjadi obyek filsafat pendidikan ialah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan itu sendiri, yang berhubungan dengan bagaimana pelaksanaan pendidikan dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang dicita-citakan.

Filsafat pendidikan memilikki perhatian yang terfokus pada analisa dan penjelasan terhadap problema-problema pendidikan. Hanya saja sebagai satu bentuk dari filsafat umum mengenai kehidupan, maka ia memiliki juga upaya profesi mengejar dalam pengembangan posisi filsafat berhubungan dengan pendidikan dan sekolah. Hampir setiap hari para guru (pengajar) berhadapan dengan persoalan-persoalan filsafat pendidikan, yang kadang kala berhadapan langsung dengan guru dalam proses belajar mengajar dan juga masalah yang sangat pokok yang tidak bersentuhan langsung dengan pendidikan (Ellis, 1986: 111). Filsafat pendidikan memilikki beberapa sumber yakni :

  1. Manusia (People) masyarakat kebanyakan mengalami kesulitan-kesulitan dalam proses pendewasaan atau kematangannya yang mana mempunyai dampak yang signifikan terhadap sesuatu yang akan di yakini, terhadap sesuatu yang terjadi.
  2. Sekolah (school) pengalaman-pengalaman seseorang kekuatan-kekuatan, jenis sekolah dan guru-guru didalamnya merupakan-merupakan dari filsafat pendidikan. Sekolah mempengaruhi dan terus akan mempengaruhi filsafat pendidikan seseorang.
  3. Seseorang tinggal dan dibesarkan adalah sumber yang lain dari filsafat pendidikan. Jika sesorang dibesarkan pada masyarakat yang menempatkan suatu nilai pendidikan yang tinggi hal ini akan mempengaruhi filsafat pendidikan seseorang.

Sumber-sumber primer dari filsafat hidup dan filsafat pendidikan : manusia, Sekolah, dan Lingkungan.

Menurut sumber-sumber yang disebutkan di muka, merupakan sumber-sumber primer dari filsafat hidup dan filsafat pendidikan seseorang. Sumber-sumber ini dan sumber lainnya akan terus mempunyai dampak karena sesorang tumbuh dan berkembang.

1.3 Tujuan Filsafat Pendidikan

Menurut Edward J. Power ada 4 Tujuan Filsafat Pendidikan, sebagai berikut :

  1. Tujuan Filsafat Pendidikan Inspirational
    Adalah “ to express utopian ideals for the formal and informal education of human beings” Atau artinya adalah untuk mengekspresikan tentang pendidikan yang ideal atau pendidikan yang dicita-citakan.
    Contoh tujuan filsafat pendidikan inspirational antara lain sebagaimana tercermin dalamm filsaat pendidikan Plato yang termuat dalam karyanya yang berjudul “Republik” Plato mengekspresikan suatu model pendidikan yang dicita-citakan atau diidamkan dalam ragka mendidik manusia agar menjadi warga Negara yang cakap, bertanggung jawab, dan mampu berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sesuai dengan statusnya dan tingkat kebajikan yang dapat disumbangkannya kepada Negara idaman.
    Selain Plato, J.J Rousseau dalam bukunya “Emile” mengekspresikan tentang pendidikan yang diidamkan dan dicita-citakan dalam rangka mendidik anak laki-laki. Rouseau mengemukakan bahwa : “segala sesuatu yang datang dari tangan Tuhan pada awalnya adalah baik, tetapi segala sesuatu menjadi rusak Karena tangan manusia ”.
  2. Tujuan Filsafat Pendidikan Analytical
    Adalah “to descover and interpret meaning in educational discourse and practice” atau artinya adalah tujuan filsafat pendidikan tiada lain untuk menemukan dan menginterpretasi makna perkataan atau tulisan mengenai konsep pendidikan dan praktek pendidikan.
    Contoh tujan filsafat pendidikan yang bersifat analytical antara lain sebagaimana tercermin dalam filsafat pendidikan dikemukakan oleh Israel scheffler’s berjudul “the language of education”. Edwar J Power mengemukakan bahwa : bahwa di Amerika serikat karya Israel Schelffer’s dalam karyanya “the language of education” merupakan sebuah essei filsafat pendidikan yang representative yang bertujuan analytical. Scheffler’s menggunakan analisis linguistic untuk menemukan kejelasan idea-idea atau konsep-konsep dalam literature pendidikan.
  3. Tujuan Filsafat Pendidikan yang Bersifat Presfective
    Adalah “to give clear and precise directions for educational practice with a commitment to their implementation” atau tujuan filsafat pendidikan yang bersifat prespektif tiada lain untuk memberikan kejelasan da arah yang tepat bagi praktek pendidikan dengan suatu komitmen untuk mengimplimentasikannya. Tujuan filsafat pendidikan adalah memberikan petunjuk tentang tujuan dan cara-cara pendidikan yang seharusnya untuk dapat diimplimentasikan.
    Contoh tujuan filsafat pendidikan yang bersifat prespective antara lain sebagaimana tercermin dalam filsafat pendidikan dari Herbart dalam karyanya “the science of education”; Hutchin dalam karyanya “The higher learning in america”; dan Maritain dalam karyanya “education and the crossroads”. Filsafat pendidikan Herbart antara lain memberikan petunjuk bahwa : moralitas adalah satu dan keseluruhan pekerjaan pendidikan dan Herbart juga memberikan petunjuk bahwa mengajar hendaknya didasarkan pada minat dan tahapan yang runtut dan jelas. Menurutnya bahwa metode pendidikan hendaknya didasarkan kepada psikologi.
  4. Tujuan Filsafat Pendidikan yang Bersifat Investigations dan Inquiry
    Adalah “to inquire into policies and practices adopted in education with a view to either justification or reconstrucction” atau tujuan filsafat pendidikan yang bersifat investigasi dan inkuiri adalah untuk menyelidiki kebijakan-kebijakan dan praktek-praktek pendidikan untuk menjastifikasi atau merekontruksikannya kembali.
    Contoh Tujuan filsafat pendidikan yang bersifat investigasi dan inkuiri tercermin dalam filsafat pendidikan Jhon Dewey dalam karyanya berjudul “Democracy and Education”

Secara umum tujuan filsafat pendidikan sebagai beriku :

  1. Dengan berfikir filsafat seseorang bisa menjadi manusia, lebih mendidik dan membangun diri sendiri
  2. Seseorang dapat menjadi orang yang dapat berfikir sendiri
  3. Memberikan dasar-dasar pengetahuan, memberikan pandangan yang sintesis pula sehingga seluruh pengetahuan merupakan satu kesatuan
  4. Hidup seseorang tersebut dipimpin oleh pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tersebut. Sebab itu mengetahuai pengetahuan-pengetahuan terdasar berarti mengetahui dasar-dasar hidup diri sendiri
  5. Bagi seorang pendidik filsafat mempunyai kepentingan istimewa karena filsafatlah yang memberikan dasar-dasar dari ilmu-ilmu pengetahuan lainnya yang mengenai manusia seperti misalnya ilmu mendidik
  6. Memberikan landasan dan sekaligus mengarahkan kepada proses pelaksanaan pendidikan
  7. Membantu memperjelas tujuan-tujuan pendidikan
  8. Melaksanakan kritik dan koreksi terhadap proses pelaksanaan tersebut
  9. Melakukan evaluasi terhadap metode dari proses pendidikan.

1.4 Aliran Filsafat Pendidikan

Tujuan filsafat pendidikan juga dapat dilihat dari beberapa aliran atau jenis-jenis filsafat pendidikan yang dapat mengembangkan pendidikan itu sendiri yaitu :

A. Filsafat Pendidikan Idealisme
Inti dari ajaran filsafat pendidikan idealisme adalah manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dibandingkan dengan materi kehidupan manusia, roh itu pada dasarnya dianggap suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut dengan penjelmaan dari roh atau sukma.
Menurut paham idealisme guru harus membimbing atau mendiskusikan dengan peserta didik bukan prinsip-prinsip ekternal, malainkan sebagai kemungkinan-kemungkinan yang perlu dikembangkan, serta juga harus diwujudkan sedapat mungkin watak yang terbaik. Pendidikan bukan menjejalkan pengetahuan dari luar kedalam diri seseorang, melainkan memberikan kesempatan untuk membangun atau mengkonstruksikan pengalaman dalam diri seseorang.

B. Filsafat Pendidikan Realisme
Realisme dalam berbagai bentuk menurut ahli menarik garis pemisah yang tajam antara yang mengetahui dan yang diketahui, dan pada umumnya cenderung ke arah dualisme atau monisme materialistik. Seorang pengikut materialisme mengatakan bahwa jiwa dan materi sepenuhnya sama. Jika demikian halnya, sudah tentu dapat juga sama-sama dikatakan jiwa adalah materi seperti mengatakan materi adalah niwa. Tetapi apakah orang berusaha melacak roh samapai kepada materi ataukah materi sampai kepada roh?
Sistem pendidikan realisme percaya bahwa dengan sesuatu atau lain cara, ada hal-hal yang adanya terdapat di dalam dan tentang dirinya sendiri, dan yang hakekatnya tidak terpengaruh oleh seseorang hubungan fisik yang berbeda.

C. Filsafat Pendidikan Materialisme
Karakteristik umum pendidikan yang menganut filsafat materialime pendidikan adalah semua sains seperti biologi, kimia, psikologi, fisika, sosiologi, ekonomi, dan yang lainnya ditinjau dari dasar fenomena materi yang berhubungan secara kasual (sebab akibat), apa yang dikatakan jiwa dan segala kegiatannya adalah merupakan suatu gerakan yang kompleks dari otak, sistem urat saraf, atau oragan-organ tubuh lainnya, apa yang disebut dengan nilai dan cita-cita, makna dan tujuan hidup, keindahan dan kesenangan serta kebebasan, hanyalah sekedar nama nama atau semboyan, simbol subyektif manusia untuk situasi atau hubungan fisik yang berbeda. Jadi semua fenomena sosial maupum alam fenomena psikologi adalah merupakan bentuk-bentuk tersembunyi dari realitas fisik. Hubungan-hubungannya dapat berubah secara kasual.

D. Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Pendidikan dalam paham ini bukan merupakan suatu proses pembentukan dari luar, dan juga bukan merupakan suatu pemerkahan kekuatan-kekuatan laten dengan sendirinya, melainkan merupakan suatu proses reorganisasi dan rekonstruksi dari pengalaman-pengalaman individu, yang berarti bahwa setiap manusia belajar dari pengalaman.

E. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Filsafat ini memfokuskan pada pengalaan-pengalaman individu. Eksistensi adalah cara manusia hidup. Pendidikan, proses pembelajaran, harus berlangsung sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik, tidak ada pemaksaan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan, melainkan ditawarkan. Tuntunlah peserta didik agar dapat menemukan dirinya dan kesadaran akan dunianya. Guru hendaknya memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk memilih dan memberi mereka pengalaman-pengalaman yang akan membantu menemukan makna dari kehidupan mereka.

F. Filsafat Pendidikan Progresivisme
Menurut penganut aliran ini bahwa kehidupan manusia berkembang terus menerus dalam suatu daerah yang positif. Apa yang dipandang benar sekarang belum tentu benar pada masa yang akan datang. Oleh sebab itu, peserta didik bukan dipersiapkan untuk menghidupi kehidupan masa kini, melainkan mereka harus dipersiapkan menghadapi kehidupan masa datang.
Guru atau pendidik harus berperan sebagai pembimbing dan fasilitator agar peserta didik terdorong atau terbantu untuk mempelajari dan memiliki pengalaman tentang hal-hal yang penting bagi kehidupan mereka, bukan memberikan sejumlah kebenaran yang disebut abadi. Yang penting adalah bahwa guru atau pendidik harus memfasilitasi peserta didik agar memiliki kesempatan yang luas untuk bekerja sama atau kooperatif di dalam kelompok, memecahkan masalah yang dipandang penting oleh kelompok bukan oleh guru, dalam kelompoknya.

G. Filsafat Pendidikan Perenialisme
Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan.Untuk mengembalikan keadaan krisis ini, maka perenialisme memberikan jalan keluar yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya.
Ciri utama perenialisme memandang bahwa keadaan sekarang adalah sebagai zaman yang mempunyai kebudayaan yang tergangganggu oleh kekacauan, kebingungan, dan kesimpangsiuran. Berhubung dengan itu dinilai sebagai zaman yang membutuhkan usaha untuk mengamankan lapangan moral, intelektual dan lingkungan sosial kultural yang lain. Ibarat, kapal yang akan berlayar, zaman memerlukan pangkalan dan arah tujuan yang jelas. Perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan pangkalan yang demikian ini merupakan tugas yang pertama dari filsafat dan filsafat pendidikan
Perenialisme bukan merupakan suatu aliran baru dalam filsafat, dalam arti perenialisme bukanlah suatu pengetahuan yang menyusun filsafat baru, yang berbeda dengan filsafat yang telah ada. Teori dan konsep pendidikan perenialisme dilatar belakangi oleh filsafat-filsafat plato sebagai bapak realism klasik, dan filsafat Thomas Aquinas yang mencoba memadukan antara filsafat Aristoteles dengan ajaran (filsafat) gereja katolik yang tumbuh pada zamannya (Abad pertengahan).
Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan, dimana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus.
Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada Abad ke dua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progrivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidak pastian dan ketidak teraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual, dan sosio-kultural. Oleh karena itu, perlu ada usaha mengamankan ketidak beresan tersebut.
Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialisme, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan untuk kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti ke dalam keadaan ideal. Peranialisme tidak terlihat jalan yang meyakinkan, selain kembali pada prinsip prinsip yang telah sedemikian rupa membentuk sikap kebiasaan, bahwa keperibadian manusia yaitu kebudayaan dahulu (yunani kuno) dan kebudayaan abad pertengahan.

1. Pendidikan
Perenialisme memandang kebenaran sebagai hal yang konstan, abadi atau perennial. Tujuan pendidikan, menurut pemikiran perenialis adalah memastikan bahwa siswa memperoleh pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau gagasan–gagasan besar yan tidak berubah.
2. Kurikulum
Menurut kaum perenialisme harus menekankan pada pertumbuhan intelektual siswa pada seni dan sains. Untuk menjadi “ terpelajar secara cultural ”, para siswa harus berhadapan dengan bidang–bidang ini yang merupakan karya terbaik dan paling signifikan yang diciptakan oleh manusia.
Kurikulum perenialis Hutchins didasarkan pada asumsi mengenai pendidikan :

  • Pendidikan harus mengangkat pencairan kebenaran manusia yang berlangsung terus–menerus
  • Karena kerja pikiran adalah bersifat intelektual dan memfokuskan pada gagasan-gagasan.
  • Pendidikan harus menstimulasi para mahasiswa untuk berfikir serta mendalami mengenai gagasan-gagasan signifikan.

Lazada Philippines

3. Prinsif pendidikan perenialisme secara umum yaitu :

a. Pada hakikatnya manusia adalah sama di manapun dan kapanpun ia berada, yang walaupun lingkungannya berbeda. Tujuan pendidikan adalah sama dengan tujuan hidup, yaitu mencapai kebijakan dan kebijakan, untuk memperbaiki manusia atau dengan kata lain pemuliaan manusia. Oleh karena itu maka pendidikan harus sama bagi semua orang kapanpun dan di manapun.
b. Bagi manusia, pikiran adalah kemampuan yang paling tinggi. Karena itu manusia harus menggunakan pikirannnya untuk mengembangkan bawaannya sesuai dengan tujuannya. Manusia memiliki kebebasan namun harus belajar untuk mempertajam pikiran dan dapat mengontrol hawa nafsunya. Kegagalan yang dialami peserta didik jangan dengan cepat menyalahkan lingkungan yang kurang menguntungkan atau nuansa psikologis yang kurang menyenangkan, namun guru hendaknya dapat mengatasinya dengan pendekatan intelektual yang sama bagi semua peserta didik. Tugas pendidikan adalah memberikan pengetahuan tentang kebenaran yang pasti, dan abadi. Kurikulum diorganisasikan dan ditentukan terlebih dahulu oleh orang dewasa, dan ditujukan untuk melatih aktivitas akal, untuk mengembangkan akal.
c. Fungsi utama pedidikan adalah memberikan pengetahuan tentang kebenaran yang pasif dan abadi. Pengetahuan yang penting diberikan kepada peserta didik adalah mata pelajaran pendidikan umum atau general education, bukan mata pelajaran yang hanya penting sesaat atau menarik minat pada saat tertentu saja atau seketika. Mata pelajaran yang esensi adalah bahasa, sejarah, matematika, IPA, filsafat dan seni, dan 3 R ‘s; membaca, menulis, dan membimbing.
d. Pendidikan adalah persiapan untuk hidup bukan peniruan untuk hidup.
Peserta didik seharusnya mempelajari karya-karya besar dalam literature yang menyangkut sejarah, filsafat, seni, kehidupan sosil, terutama politik dan ekonomi

H. Filsafat Pendidikan Esensialisme

Gerakan esensialisme muncul pada awal tahun 1930, dengan beberapa orang pelopornya, seperti William C. Bagley, Thomas Bringgs, Frederick Breed, dan Isac L. Kandell.
Esensialisme bukan merupakan suatu aliran filsafat tersendiri, yang mendirikan suatu bangunan filsafat itu sendiri, melainkan suatu gerakan yang memprotes pendidikan progresivisme.
ESENSI ( Essence ) ialah hakikat barang sesuatu yang khusus sebagai sifat terdalam dari suatu sebagai satuan yang konseptual dan akal.
Esensi ( essentia ) adalah yang membuat sesuatu menjadi apa adanya. Esensi mengacu pada aspek-aspek yang lebih permanen dan mantap dari suatu yang berlawanan dengan yang berubah-ubah, parsial atau fenomenal.

Konsep pendidikan

a. Gerakan back to basics
Gerakan back to basics dimulai dipertentangan tahun 1970 adalah dorongan skala besar yang muktahir untuk menerapkan program- program esensialis disekolah-sekolah. Ahli pendidikan esensialis tidak memandang sebagai orang yang jahat, dan tidak pula memandang anak sebagai seorang yang alamiah yang baik.
Para pemikir Esensialisme pada umumnya tidak memiliki kesatuan garis karena mereka berpandangan pada filsafat yang berbeda namun, di antara mereka ada kesepakatan tentang prinsip dasar filsafat esensialisme yang berkaitan dengan pendidikan.
b. Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan adalah untuk meneruskan warisan budaya dan warisan sejarah melalui pengetahuan inti yang terakumulasi dan telah tertahan dalam kurun waktu yang lama serta merupakan suatu kehidupan yang telah teruji oleh waktu dan dikenal oleh semua orang.
Selain merupakan warisan budaya, tujuan pendidikan esensialisme adalah ” mempersiapkan manusia untuk hidup”. Namun, hidup tersebut sangat kompleks dan luas, sehingga kebutuhan-kebutuhan untuk hidup tersebut berada di luar wewenang sekolah.
c. Kurikulum
Kurikulum esensialis menekankan pengajaran fakta-fakta : kurikulum itu kurang memiliki kesabaran dengan pendekatan- pendekatan tidak langsung yang diangkat oleh kaum progesivisme. Kurikulum esensialisme seperti halnya perenialisme, yaitu kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran.
d. Peranan sekolah dan guru
Peranan sekolah adalah memelihara dan menyampaikan warisan budaya dan sejarah pada generasi pelajar dewasa ini melalui hikmat dan pengalaman yang terakumulasi dari disiplin tradisional.
Mengenai peranan guru banyak persamaannya dengan perenialisme. Guru dianggap sebagai seseorang yang mengusai lapangan subjek khusus, dan merupakan model contoh yang sangat baik untuk yang ditiru. Guru merupakan orang yang menguasai pengetahuan dan kelas berada di bawah pengaruh dan pengawasan guru.

Penganut paham Essensialisme mengemukakan beberapa prinsip pendidikan (Sadulloh, 2003), sebagai berikut :

  • Pendidikan dilakukan dengan usaha keras, tidak timbul dengan sendirinya dari dalam diri peserta didik.
  • Inisyatif pelaksanaan pendidikan datang dari guru bukan peserta didik. Guru berperan menjembatani antara dunia orang dewasa dengan dunia peserta didik, karena itu kendali pelaksanaan pembelajaran ada pada guru atau pendidik
  • Inti proses pendidikan adalah asimilasi dari mata pelajaran yang telah ditentukan. Materi pelajaran direncanakan sepenuhnya oleh orang dewasa dan sekolah baik adalah apabila sekolah tersebut berpusat pada masyarakat ( society centered school ).
  • Metode-metode tradisional yang bertautan dengan disiplin mental merupakan metode yang diutamakan dalam pendidikan di sekolah. Pengikut essensialisme mengakui bahwa problom solving atau metode pemecahan masalah ada manfaatnya, namun tidak perlu dilaksanakan dalam setiap pembelajaran, karena pengetahuan tidak selalu didasarkan atas fakta-fakta, tetapi banyak yang abstrak sehingga tidak dapat dipecahkan ke dalam masalah-masalah yang konkrit.

Tujuan akhir pendidikan adalah meningkatkan kesejahteraan atau kebahagiaan sesuai dengan tuntutan demokrasi.

I. Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme
Sebagaimana yang dinyatakan oleh Caroline Pratt (1948), seorang rekonstruksionis social yang berpengaruh periode itu: “ Nilai terbesar suatu sekolah harus menghasilkan manusia-manusia yang dapat berpikir secara efektif dan bekerja secara konstruktif, yang saat bersamaan dapat membuat suatu dunia yang lebih baik dibandingkan dengan sekarang ini untuk hidup di dalamnya ”.
Rekonstruksionisme adalah suatu kelanjutan yang logis dari cara berpikir progresifisme dalam pendidikan. Tidak cukup kalau individu belajar hanya dari pengalaman-pengalaman di kemasyaratan di sekolah.
Tujuan pendidikan adalah untuk menumbuhkan kesadaran peserta didik akan masalah-masalah sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi manusia bukan hanya nasional, regional akan tetapi juga secara global.
Kurikulum merupakan subjek matter yang berisikan masalah-masalah sosial, ekonomi, politik yang beranekaragam, yang dihadapi umat manusia, termasuk masalah-masalah sosial dan pribadi terdidik itu sendiri. Mengenai perana guru, paham rekonstruksionalisme sama dengan progresivisme. Guru harus menyadarkan si pendidik terhadap masalah- masalah yang dihadapi manusia, membantuk terdidik mengidentifikasi masalah-masalah untuk dipecahkannya, sehingga terdidik memiliki kemampuan memecahkan tersebut.
Sekolah merupakan agen utama untuk perubahan sosial, politik, dan ekonomi di masyarakat. Tugas sekolah adalah mengembangkan “ rekayasa sosial”, dengan tujuan mengubah secara radikal wajah masyarakat dewasa ini dan masyarakat yang akan datang.
Brameld (Sadulloh, 2003), mengemukakan teori pendidikan Rekonstruksionisme terdiri dari lima tesis, yakni :

  1. Pendidikan berlangsung saat ini untuk menciptakan tata sosial baru yang akan mengisi nilai-ilai dasar budaya masa kini, selaras dengan yang mendasarikekuatan-kekuatan ekonomi dan sosial masyarakat modern.
  2. Demokrasi sejati merupakan dasar dari kehidupan masyarakat baru. Lembaga utama di masyarakat ditentukan dan dikontrol oleh masyarakat itu sendiri. Segala harapan dan kepentingan/kebutuhan masyarakat menjadi tanggung jawab masyarakat melalui wakil-wakil yang dipilih.
  3. Anak sekolah dan pendidikan diatur oleh kekuatan budaya dan sosial. Rekonstruksionisme memandang kehidupan beradab adalah hidup berkelompok, sehingga sekolah harus berlangsung dalam kelompok yang berati bahwa kelompok memegang peran yang sangat penting disekolah. Sekolah adalah realisasi dari sosial (social self realization); melalui sekolah akan dikembangkan bukan hanya sifat sosialnya akan tetapi kemampuan untuk melibatkan diri dalam perencanaan sosial.
  4. Guru memegang peranan penting dalam pendidikan di sekolah akan tetapi dalam pelaksaanaan tugasnya harus selalu memperhatikan prosedur yang demokratis.
  5. Tujuan pendidikan adalah untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan yang berhubungan dengan krisis budaya, dan untuk menyesuaikan kebutuhan dengan sains sosial yaitu nilai-nilai universal.
    Penyusunan kurikulum, isi pelajaran, metode yang dipakai, struktur administrasi, dan cara bagaimana guru dilatih, sebaiknya harus ditinjau kembali dan disesuaikan dengan teori kebutuhan tentang sifat dasar manusia secara rasional dan ilmiah.

J. Filsafat Pendidikan Pancasila

Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional no.20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara efektif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spirituaal keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdaasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan menyediakan kesempatan atau kondisi optimal bagi terjadinya belajar dan proses pembelajaran. Pendidik berperan sebagai fasilitator, organisator, dan motivator, memfasilitasi pembelajaran, mengarahkan atau menuntun, dan mendorong peserta didik dalam aktifitas belajarnya agar berlangsung efektif dan efisien.
Selanjutnya dalam UU Ssisdiknas tahun 2003 BAB II Pasal 3 dijelaskan tujuan pendidikan sebagai berikut : pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan memebentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahklak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan berlangsung di keluarga, di rumah, di sekolah, dan di masyarakat. Pendidikan harus berlangsung dengan keteladanan dan komunikasi. Orang tua adalah pendidik di keluarga, di rumah; guru dan tenaga pendidik lainnya adalah pendidik di sekolah; tokoh atau pemuka agama, alim ulama, pejabat mulai dari jabatan paling rendah sampai pada jabatan yang paling tinggi yang ada di masyarakat dan negara adalah pendidik sekaling.

1.5 Fungsi Filsafat Bagi Pendidikan
Sejak awal perkembangan, filsafat berperan memberikan pengertian dan menjadi pedoman bagi manusia dalam usaha memahami hakikat sesuatu. Ajaran filsafat telah membantu dalam memberikan jawaban-jawaban atas problema-problema mendasar dalam alam pikiran dan alam kehidupan manuisa.
Adapun fungsi filsafat pendidikan antara lain sebagai berikut :

  1. Fungsi spekulatif yang ditujukan untuk lebih memahami hakikat sesuatu.
    Misalnya mengenai persolan-persoalan pendidikan secara komprehensif.
  2. Fungsi Normatif yaitu proses temuan norma-norma kehidupan yang bersumber pada dasar-dasar filsafat hidup yang dimilikinya.
  3. Fungsi Kritik yaitu memberikan dasar pertimbangan dan menafsirakan data yang bersifat ilmiah.
  4. Fungsi Toeri bagi praktek, semua ide, konsepsi, kesimpulan-kesimpulan
  5. Fungsi Integratif sering digunakan untuk memadu semacam nilai dan azas-azas normatife dalam ilmu pendidikan.

2.1.6 Peranan filsafat pendidikan
Filsafat pendidikan sesuai dengan peranannya merupakan landasan filosofis yang menjiwai seluruh kebijaksaan dan pelaksanaan pendidikan. Dengan demikian hubungan filsafat dan menjadi sedemikian pentingnya. Karena masalah pendidikan merupakan masalah hidup dan kehidupan manusia. Proses pendidikan berada dan berkembang bersama proses perkembangan hidup dan kehidupan manusia. Dalam konteks ini, filsafat pendidikan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, yang menyangkut aspek hidup dan kehidupan manusia.

2. Aspek Epistemologi Filsafat Pendidikan
Secara etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan atau kebenaran dan logos berarti pikiran, kata atau teori. Dengan demikian epistimologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Epistimologi dapat juga diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar (teori of knowledges).
Dalam bidang epistemologi, konsentrasi filsafat tertuju pada pembicaraan problem pengetahuan dan persoalan yang berkenan dengan hakikat dan struktur pengetahuan. Secara akademis, epistemologi merupakan kajian yang berkaitan tentang persoalan dasar ilmu pengetahuan yang meliputi : hakikat ilmu, jenis ilmu pengetahuan yang mungkin dapat diraih manusia, sumber ilmu pengetahuan, dan batas-batas ilmu pengetahuan manusia.
Kajian epistemologi diperlukan terutama untuk membuat jaminan-jaminan suatu keputusan itu dapat dikatakan benar. Kebenaran diambil atas dasar pandangan atau pendapat ahli saja tidak dapat menjamin seseorang untuk merasa puas akan temuannya. Kondisi ini meniscayakan seseorang ingin melanjutkannya dengan mencari sesuatu yang tidak menjadikannya ragu dan bimbang atas apa yang diketahuinya. Hal ini mengingat pengetahuan manusia tidak terlepas dari ekspresi cara beradanya di dunia yang dalam banyak variannya terkait dengan konsep-konsep dan keyakinan-keyakinan yang telah terbangun dan terstruktur dalam dirinya.
Epistemologi filsafat pendidikan merupakan suatu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan, struktur, metode dan validitas pengetahuan.

2.1 Asal mula atau sumber pengetahuan
Sumber pengetahuan bisa diperoleh dari :

1. Panca Indra
Empirisme adalah paham yang menganggap pengetahuan dicapai melalui indra : bahwa orang-orang membangun gambaran tentang dunia di sekeliling mereka dengan melihat, mendengar, membau, meraba dan mengecap. Pengetahuan empiris lekat menyatu dalam hakikat pengalaman manusia itu sendiri. Seseorang mungkin akan keluar rumah di musin semi dan melihat-lihat keindahan pemandangan, mendengrakan kicauan burung dan merasakan hangatnya matahari. Dia mengetahui bahwa musimnya adalah musim semi karena pesan-pesan yang diterimanya melalui panca indra. Pengetahuan ini tersusun dari gagasan-gagasan yang terbentuk sejalan dengan data yang teramati. Pengetahuan indrawi bagi manusia adalah dekat dan universal dan dalam banyak hal ini merupakan dasar bagi banyak pengetahuan kita.
2. Otoritas
Pengetahuan otoritas diakui sebagai kebenaran karena ini berasal dari para ahli. Di dalam ruang kelas umumnya sebagian banyak sumber informasi adalah otoritas, semisal text book (buku pelajaran), guru atau buku rujukan.
Otoritas sebagai sebuah sumber pengetahuan mempunyai nilai positif dan negatif. Peradaban tentu akan berada dalam kemandekan keterputusan seandainya tiap-tiap individu tidak mau menerima pendapat apa pun jika ia tidak membuktikannya lewat pengalaman langsung, yaitu pengalaman langsung. Penerimaan pengetahuan otoritatif umumnya menghemat waktu dan meningkatkan kemajuan sosial dan keilmuan. Di sisi lain bentuk pengetahuan ini hanyalah senilai dengan sahnya asumsi-asumsi yang mendasarinya. Jika pengetahuannya otoritatif didasarkan pada pondasi asumsi-asumsi yang keliru maka pengetahuannya tersebut nicaya menjadi meleset.
3. Akal Pikir
Pandangan bahwa penalaran, pemikiran dan logika merupakan faktor sentral dalam pengetahuan disebut dengan rasionalisme. Menurut kaum rasionalisme berpendapat bahwa akal merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan. Akal manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui kebenaran alam semesta yang tidak mungkin diketahui melalui observasi.
4. Intuisi
Penangkapan langsung pengetahuan yang bukan hasil dari penalaran kesadaran atau hasil dari serapan indrawi yang begitu cepat disebut dengan intuisi. Intuisi berlangsung diantara ambang kesadaran. Ia seringkali dialami sebagai suatu kelas pemahaman yang tiba-tiba. Kelemahan atau bahaya intuisi adalah bahwa ia tidak mewujud sebagai metode yang aman untuk memperoleh pengetahuan ketika digunakan sendirian. Adapun kelebihannya untuk bisa melewati keterbatasan-keterbatasan pengalaman manusia.
5. Wahyu
Wahyu adalah komunikasi dengan Tuhan yang berisi tentang kemauan Tuhan. Orang-orang yang percaya akan wahyu berpendapat bahwa bentuk pengetahuan ini mempunyai kelebihan yang berbeda karena berasal dari sumber informasi yang maha tahu yang tak dapat dicapai lewat cara-cara epistemologis lain. Kebenaran yang diperoleh melalui sumber wahyu ini dipercaya absolut dan tak tercampuri (murni).

2.2 Struktur
Struktur Pengetahuan Ilmiah Menurut Jujun (2005) dalam bukunya Filsafat Ilmu, yaitu :

1. Asumsi
Asumsi adalah sesuatu yang dianggap sudah benar, tetapi perlu didampingi dengan fakta empiris.
2. Hipotesa
Hipotesa merupakan suatu perkiraan awal yang belum diuji. Biasanya hipotesa diambil berdasarkan teori-teori umum yang mendukung.
3. Prinsip
Prinsip adalah sesuatu yang mendasari sesuatu yang lain.
4. Teori
Teori adalah suatu penjelasan yang menjelaskan tentang sesuatu. Akan tetapi teori masih dapat disanggah atau disangkal.
5. Hukum
Hukum adalah teori yang sudah tidak dapat disanggah atau disangkal lagi. Akan tetapi, apabila terdapat suatu teori yang lebih umum daripada hukum tersebut, maka hukum tersebut tidak benar lagi dan digantikan oleh teori yang baru tersebut.
6. Aksioma/postulat
Postulat atau aksioma merupakan suatu pernyataan yang sudah tidak perlu dibuktikan lagi. (dianggap sudah benar)

2.3 Metode atau cara filsafat pendidikan
Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan, diantaranya :

a. Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan, yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
b. Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.
c. Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Baran sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon). Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
d. Intusionisme
Menurut Bergson, intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Salah satu di antara unsut-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif. Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisa. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya.

Sedangkan menurut Burhanudin Salam beberapa jenis metode ilmiah yaitu :

1. Observasi
Beberapa ilmu seperti astronomi dan botani telah dikembangkan secara cermat dengan metode observasi. Didalam metode observasi melingkupi pengamatan indrawi seperti : melihat, mendengar, menyentuh, meraba.
2. Trial and Error
Teknik yang diperoleh karena mengulang-ulang pekerjaan baik metode, teknik, materi, parameter-parameter sampai akhirnya menemukan sesuatu, memerlukan waktu yang lama dan biaya yang tinggi.
3. Metode eksperimen
Kegiatan ekperimen adalah berdasarkan pada prinsip metode penemuan sebab akibat dan pengajuan hipotesis. Peranan metode ini adalah hanya untuk membedakan satu faktor atau kondisi pada suatu waktu, sedangkan faktor-faktor lainnya diusahakan tidak berubah atau tetap.
4. Metode Statistik
Istilah statistik berarti pengetahuan tentang mengumpulkan, menganalisis dan menggolongkan data sebagai dasar induksi. Metode statistik telah ada sejak lama, yaitu untuk membantu pemimpin dan penguasa mengumpulkan data tentang penduduk, kematian, kesehatan dan perpajakan. Metode statistik ini telah berkembang dan lebih menarik minat lagi, sehingga metode statistik dipakai dalam kehidupan sehari-hari misalnya perdagangan, peredaran uang dan lain sebagainya. Statistik memungkinkan kita untuk menjelaskan sebab dan akibat dan pengaruhnya, melukiskan tipe-tipe dari fenomena-fenomena dan kita dapat membuat perbandingan-perbandingan dengan mempergunakan tabel-tabel dan grafik. Statistik juga dapat meramalkan kejadian-kejadian yang akan datang dengan tingkat ketepatan yang tinggi.
5. Metode Sampling
Terjadinya sampling, yaitu apabila kita mengambil beberapa anggota atau bilangan tertentu dari suatu kelas atau kelompok sebagai wakil dari keseluruhan kelompok tersebut dapat mewakli secara keseluruhan atau tidak. Seandainya bahan yang akan kita uji itu menunjukkan kesamaan jenisnya melalui sebuah sampel dapatlah diperoleh hasil dengan ketepatan yang tinggi.
6. Metode Berpikir Reflective
Metode reflective thinking pada umumnya melalui enam tahap, yaitu :

a. Adanya kesadaran kepada sesuatu masalah
b. Data yang diperoleh dan relevan yang harus dikumpulkan
c. Data yang terorganisasi
d. Formulasi Hipotesis
e. Deduksi Hipotesis
f. Deduksi harus berasal dari hipotesis
g. Pembuktian kebenaran verifikasi

2.4 Validitas atau teori kebenaran pengetahuan
Menurut Endang Saifuddin Anshari (dalam H. Mumuh M. Zakaria, 2008) Teori kebenaran dapat ditentukan dengan :

1. Teori Koherensi/Konsistensi (The Consistence/Coherence Theory of Truth) :

  • Kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui sebagai benar.
  • Suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian (pembenaran) oleh putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah diketahui, diterima dan diakui benarnya.

Contoh: “Semua manusia akan mati. Si Polan adalah seorang manusia.Si Polan pasti akan mati.” “Sukarno adalah ayahanda Megawati. Sukarno mempunyai puteri. Megawati adalah puteri Sukarno”.
Teori ini dianut oleh mazhab idealisme. Penggagas teori ini adalah Plato (427-347 S.M.) dan Aristoteles (384-322 S.M.), selanjutnya dikembangkan oleh Hegel dan F.H. Bradley (1864-1924).
2. Teori Korespondensi (The Correspondence Theory of Thruth):
Kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan tentang sesuatu dengan kenyataan sesuatu itu sendiri.
Contoh: “Ibu kota Republik Indonesia adalah Jakarta”.
Teori ini digagas oleh Aristoteles (384-322 S.M.), selanjutnya dikembangkan oleh Bertrand Russel (1872-1970). Penganut teori ini adalah mazhab realisme dan materialisme.
3. Teori Pragmatis (The Pragmatic Theory of Truth) :
“Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis”; dengan kata lain, “suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia”. Kata kunci teori ini adalah : kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability), akibat atau pengaruhnya yang memuaskan (satisfactory consequencies).
Pencetus teori ini adalah Charles S. Pierce (1839-1914) dan William James.
Kritik : betapa kabur dan samarnya pengertian berguna (usefull) itu.

3. Aspek Aksiologi Filsafat Pendidikan
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu : axios yang berarti nilai. Sedangkan logos berarti teori/ilmu. Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai (Amsal Bakhtiar, 2004: 162). Sedangkan Jujun S. Suriasumantri (2000: 105) mengartikan aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Sementara John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial dan agama. Sedangkan nilai itu sendiri adalah sesuatu yang berharga yang diidamkan oleh setiap insan.
Dalam bidang aksiologi, pemikiran fisafat diarahkan pada persoalan nilai, baik dalam konteks estetika, moral maupun agama. Persoalan nilai ini sesungguhnya adalah muara bagi keseluruhan aktivitas berfikir filsafat itu sendiri. Pendeknya, ujung dari keseluruhan aktivitas filsafat dalam bidang metafisika maupun epistemologi ialah terwujudnya tingkah laku dan perbuatan-perbuatan manusia yang mengandung nilai. Kearipan sebagai lambang orientasi kegiatan filsafat tidak akan terwujud jika aktivitas filsafat hanya bergerak dalam dua bidang kajiannya saja dan menegasikan wilayah aksiologi.
Aksiologi filsafat pendidikan mempelajari mengenai manfaat apa yang diperoleh dari ilmu pengetahuan, menyelidiki hakikat nilai mengenai etika dan estetika.

3.1 Manfaat Filsafat Pendidikan
Pendidikan sangat terkait dengan aktivitas mula manusia yang tugas utamanya adalah membantu mengembangkan humanitas manusia untuk menjadi manusia yang berkepribadian mulia dan utama menurut karakteristik idealitas manusia yang diinginkan. hal ini sangat diperlukan mengigat manusia memiliki potensi-potensi dalam taraf kodrat human dignity (martabat manusia) yang memiliki kesadaran diri dalam yang mendorong untuk merealisasikan berbagai potensinya, sehingga berkembang dengan baik menjadi self realization (realisasi diri) yang akan menetukan bagi petunjukan jati dirinya yang ideal, agar dapat berfungsi dan bermanfaat bagi kehidupannya secara individu maupun social kemasyarakat.
Kualitas suatu masyarakat memiliki hubungan strategis dengan dunia pendidikan, utamanya dunia sekolahan, karena didalamnya ada upaya yang sungguh-sungguh tentang kependidikan untuk mempersiapkan generasi yang terampil dan memilki ilmu-ilmu pengerahuan dengan dilandasi pada iman dan taqwa kepada Tuhan YME dalam konteksnya yang luas.
Adapaun manfaat filsafat diantaranya sbagai berikut :

  • Bahwa sekolah cenderung mengupayakan perubahan-perubahan tingkah laku yang merupakan cerminan dari setiap individu yang bernaung dalam suatu masyarakat.
  • Pendidikan sekolah dapat dilihat sebagai manusia sejatinya yang disengaja, terarah, dan terata sedemikian rupa untuk menuju pembentukan manusia-manusia yang ideal bagi kehidupan dan penyempurnaanya.
  • Pendidikan dan nilai nilai yang dianut sebagai suatu landasan berfikir dan berbuat dalam tatanan hidup suatu masyarakat. Sedangkan untuk pendidik dan anak didik sebagai subyek-subyek yang terlihat langsung dalam pelaksanaan pendidikan.
  • Hakikat pengetahuan dan nilai sebagai aspek penting yang dikembangkan dalam aktivitas pendidikan.
  • Hakikat kurikulum sebagai tahapan-tahapan yang akan dilalui dalam proses kependidikan menuju peraihan tujuan
  • Hakikat meode dan strategi pembelajaran yang memungkinkan penumbuh kembangan potensi subyek didik
  • Alternative-alternatif yang mungkin dilalui dalam pengembangan sumber daya manusia baik menyagkut prinsip-prinsip, metode maupun alat-alat pendukung peraihan tujuan.
  • Keterkaitian dunia dengan lembaga-lembaga lain dalam lingkup masyarakat, seperti pendidikan dan dunia politik, pendidikan dan system pemerintahan, pendidikan, tata hukum dan adat dalam masyarakat
  • Keterkaitan dunia kependidikan dengan perubahan-perubahan taraf hidup dalam masyarakat
  • Aliran-aliran filsafat yang tumbuh dan berkembang dalam memecahkan berbagai ragam problem kependidikan
  • Keterkaitan pendidikan sebagai suatu lembaga dengan ideology yang dianut dan yang berkembang dalam suatu masyarakat.

Filsafat pendidikan diharapkakn dapat mencapai kompetensi sebagai berikut :

  • Menghargai kedudukana akal pikiran manusia
  • Filsafat merupakan sumber perenungan yang dalam dan kontinue
  • Menyakini hasil pikiran sebagai sumber kebenaran
  • Pemikiran sebebas bebasnya
  • Pemikiran rasional, kritis
  • Tidak dibelenggu oleh idiologi, kepercayaan/agama
  • Mewaspadai atau menolak gagasan kebenaran absolute
  • Kontruktivisme bebas dalam berpikir
  • Rekontruksi konsep dan teori
  • Merespon adanya krisis ilmu
  • Menumbuh kembangkan moralitas ilmu pengetahuan
  • Pengetahuan filsafat bersifat abstrak
  • Filsafat memiliki konsep dan teori-teori filosofis tentang segala sesuatu
  • Filsafat memiliki paradigm dan metode-metode tersendiri

3.2 Etika Filsafat Pendidikan
Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada perilaku, norma dan adat istiadat manusia. Etika merupakan salah satu cabang filsafat tertua. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan.

3.3 Estetika Filsafat Pendidikan
Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa didalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis dalam satu kesatuan hubungan yang utuh menyeluruh. Maksudnya adalah suatu objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta berpola baik, melainkan harus juga mempunyai kepribadian.

4. Hubungan Filsafat dengan Filsafat Pendidikan
Filsafat yang dijadikan pandangan hidup oleh suatu masyarakat atau bangsa merupakan asas dan pedoman yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa, termasuk aspek pendidikan. Filsafat pendidikan yang dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut oleh suatu bangsa. Sedangkan pendidikan merupakan suatu cara atau mekanisme dalam menanamkan dan mewariskan nilai-nilai filsafat itu sendiri. Pendidikan sebagai suatu lembaga yang berfungsi menanamkan dan mewariskan sistem-sistem norma tingkah laku yang didasarkan pada dasar-dasar filsafat yang dijunjung lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat. Untuk menjamin upaya pendidikan dan proses tersebut efektif, dibutuhkan landasan-landasan filosofis dan ilmiah sebagai asas normative dan pedoman pelaksanaan pembinaan (Muhammad Noor Syam, 1988:39).

Hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan :

  1. Filsafat , dalam arti filosofis, merupakan satu cara pendekatan yang dipakai dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori pendidikan oleh para ahli.
  2. Filsafat, berfungsi memberi arah bagi teori pendidikan yang telah ada menurut aliran filsafat tertentu yang memilki relevansi dengan kehidupan yang nyata.
  3. Filsafat, dalam hal ini filsafat pendidikan, mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan (pedagogic).

Menurut Ali Saifullah, antara filsafat, filsafat pendidikan, dan teori pendidikan terdapat hubungan yang suplementer: filsafat pendidikan sebagi suatu lapangan studi mengarahkan pusat perhatian dan memusatkan kegiatannya pada dua fungsi tugas normative ilmiah, yaitu :

  1. Kegiatan merumuskan dasar-dasar, tujuan-tujuan pendidikan, konsep tentang hakikat manusia, serta konsepsi hakikat dan segi pendidikan.
  2. Kegiatan merumuskan sistem atau teori pendidikan yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran, termasuk pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat (Zuhairini, 1992:18).

Bahwa antara filsafat pendidikan dan pendidikan terdapat suatu hubungan yang erat sekali dan tidak terpisahkan. Filsafat pendidikan mempunyai peranan yang amat penting dalam system pendidikan karena filsafat merupakan pemberi arah dan pedoman dasar bagi usaha-usaha perbaikan, meningkatkan kemajuan dan landasan kokoh bagi tegaknya system pendidikan.

5. Kesimpulan

Filsafat pendidikan ialah aktifitas pikiran yang teratur yang menjadi filsafat tersebut sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Artinya, bahwa filsafat pendidikan dapat menjelaskan nilai-nilai dan maklumat-maklumat yang diupayakan untuk mencapainya, maka filsafat pendidikan dan pengalaman kemanusiaan merupakan faktor yang integral atau satu kesatuan. Dimana ruang lingkup filsafat pendidikan membahas mulai permasalahan ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Permasalahan ontologi filsafat pendidikan membahas mengenai semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakekat pendidikan mulai dari pengertian, objek, tujuan, aliran, fungsi dan peranan pendidikan sehingga dapat dicapai seperti yang dicita-citakan.
Permasalahan epistemologi filsafat pendidikan mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan, struktur, metode dan validitas pengetahuan.

Sedangkan permasalahan aksiologi filsafat pendidikan membahas tentang manfaat apa yang diperoleh dari ilmu pengetahuan, menyelidiki hakikat nilai mengenai etika dan estetika.
Dengan demikian hubungan Filsafat dengan Filsafat Pendidikan mempunyai peranan yang amat penting dalam system pendidikan karena filsafat merupakan pemberi arah dan pedoman dasar bagi usaha-usaha perbaikan, meningkatkan kemajuan dan landasan kokoh bagi tegaknya system pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Syaripudin, T. dan Kurniasih, 2008, Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung, Percikan Ilmu.
  2. S. Suriasumantri, Jujun, 2007, Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan
  3. Muhmidayeli, 2011, Filsafat Pendidikan, Pekanbaru, Refika Aditama
  4. Abdullah, Ishak, 2008, Filsafat Ilmu Pendidikan, Bandung, PT remaja rosdakarda
  5. Muhmidayeli, 2011, Filsafat Pendidikan, Bandung, PT Reflika Aditama
  6. Adib, Mohammmad. 2010, Filsafat Ilmu, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
  7. George R. Khight, 2007, Filsafat Pendidikan, Yogyakarta, Gama Media