Pengambilan Keputusan

Diskon : Oppo A37 Limited:14%.
Salam jumpa, semoga sehat dan tetap semangat. Kali ini saya akan mencoba berbagi informasi tentang Pengambilan Keputusan. Baiklah kita langsung saja.
Salah satu aktivitas organisasi yang paling penting adalah pembuatan dan pengambilan keputusan. Aktivitas ini membutuhkan kemampuan andal, karena menyangkut sejumlah pilihan yang akan berpengaruh pada kelangsungan hidup organisasi. Meskipun pembuatan dan pengambilan keputusan dalam terjemah asingnya sama yakni decision making tapi keduanya adalah berbeda. Pembuatan keputusan menitik beratkan pada terciptanya sejumlah alternatif pilihan yang akan memecahkan masalah yang sedang dihadapi dengan memperhatikan unsur fungsi manajemen yaitu perencanaan. Sedangkan pengambilan keputusan menitik beratkan pada tindakan manajer dalam menetapkan alternatif mana yang aakan dipakai dalam sebuah pemecahan masalah.
Maka dari itu baik secara individu atau kelompok dalam sebuah organisasi akan selalu dipenuhi dengan serangkaian pembuatan dan pengambilan keputusan.
Pembuatan dan pengambilan keputusan merupakan hal yang penting sekali, hal ini erat kaitannya dengan kelangsungan hidup organisasi baik itu keputusan jangka pendek atau jangka panjang.
Pembuatan dan pengambilan keputusan haruslah dibuat secara matang dengan memperhatikan unsur-unsur dari manajemen (planning) sehingga diperoleh kesempurnaan dalam pencapaian target yang diharapkan.
Dalam bukunya manaajemen Edisi 2, T. Hani Handoko mendefinisikan pembuatan keputusan sebagai proses melalui mana serangkaian kegiatan dipilih sebagai penyelesaian suatu masaalah tertentu.
Menurut definisi diatas jelas bahwa pembuatan keputusaan berhubungan dengan dibuatnya ide atau gagasan sejumlah alternatif pemecahan masalah daalam sebuah keputusan. Maka dalam prosesnya diperlukan perencanaan yang tepat sehingga alternatif tersebut bisa digunakan dalam arti ada rencana B ketika rencana A tidak berjalan sehingga masalah yang dihadapi secara terus menerus bisa diperhitungkan.
George P. Huber membedakan pembuatan keputusan dari pembuatan pilihan (choice making) dan dari problem solving (pemecahan masaalah), (T.Hani handoko, 1984:130).
Pembuatan pilihan hanya melibatkan satu pilihan saja tanpa mempertimbangkan pilihan cadangan, berbeda dengan pembuatan keputusan yang menetapkan sejumlah pilihan yaang masing-masing pilihan mempunyai arah dan tujuan tertentu yang berguna dalam mencapai apa yang diharapkan.
Pemecahan masalah adalah tindakan memecahkan masalah dengan menggunakan seluruh kemampuan sehingga dapat selesai dengan tepat waktu, sedangkan pembuatan keputusan merupakan proses yang berlangsung secara sistematis dengan memperhatikan berbagai asfek sehingga permasalahan dapat diselesaikan.
Sedangkan Jogiyanto HM, dalam bukunya Sistem Teknologi Informasi mengartikan pengambilan keputusan adalah tindakan manajemen didalam pemilihan alternatif untuk mencapai sasaran.
Ketika manajer telah membuat sejumlah alternatif keputusan maka selanjutnya tugas manajer adalah mengambil keputusan dengan menetapkan alternatif mana yang tepat dalam pemecahan masalah.
1. TIPE-TIPE KEPUTUSAN
Pengklasifikasian tipe-tipe keputusan manajemen menurut Jogiyanto HM ( 2003:66-67) adalah sebagai berikut:
1. Keputusan terprogram (programmed decision) atau keputusan terstruktur (structured decision).
Keputusan terstruktur adalah keputusan yang berulang-ulang dan rutin sehingga dapat diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pada manajemen tingkat bawah. Contoh dari keputusan tipe ini misalnya adalah keputusan pemesanan barang, keputusan penagihan piutang dan lain sebagaainya.
2. Keputusan setrengah terprogram (semi-programmed decision) atau keputusan setengah terstruktur (semi structured decision).
Keputusan setengah terstruktur (semi-structured decision) adalah keputusan yang sebagian dapat diprogram, sebagian berulang-ulang dan rutin dan sebagian tidak terstruktur. Keputusan tipe ini seringnya bersifat rumit dan membutuhkan perhitungan-perhitungan serta analisis yang terperinci. Contoh dari keputusan tipe ini misalnyaa adalah keputusan membeli sistem komputer yang lebih canggih. Contoh lainnya misal adalah keputusan alokasi dana promosi.
3. Keputusan tidak terprogram (nonprogrammed decision) atau keputusan tidak terstruktur (unstructured decision)
Keputusan tidak terstruktur adalah keputusan yang tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen tingkat atas. Informsasi untuk pengambilan keputusan tidak terstruktur tidak mudah untuk didapatkan dan tidak mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar. Pengalaman manajer merupakan hal yang sangat penting di dalam pengambilan keputusan yang tidak terstruktur. Keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain adalah contoh keputusan tidak terstruktur yang jarang terjadi.
2. LANGKAH-LANGKAH ILMIAH DALAM MEMBUAT KEPUTUSAN
Membuat keputusan berarti sebagai pilihan alternatif kelakuan tertentu daripada dua atau pilihan alternatif yang ada. Atau secara keilmuan pengambilan keputusan tersebut dapat dilakukan melalui proses pembuatan keputusan, adapun langkah-langkah ilmiah dalam membuat keputusan menurut Maman Ukas (1999:119-120) :
a. Mencari data keterangan yang diperlukan.
b. Menganalisa dataa yang kita peroleh.
c. Mempertimbangkan secara oibjektif data tersebut.
d.Setelah dilakukan pemilihan secara selektif dan representatif terhadap apa yang dihadapi, barulah diambil keputusan.
Manajer memilih alternatif yang terbaik dari sejumlah alternatif yang telah dibuat. Kemudian berdasarkan sejumlah pertimbangan yang didasarkan pada pencapaian maksimum yang akan dicapai pada masa yang akan datang maka diputuskan alternatif yang akan digunakan. Dan akhirnya perlu ditambahkan bobot kemungkinan yang disebut nilai yang diharapkan, selanjutnya isi dan keputusan merupakan hal yang perlu dilaksanakan dari sebuah keputusan.
3. DASAR SERTA TEKNIK-TEKNIK DALAM MEMBUAT KEPUTUSAN
Salah satu dasar serta teknik dalam membuat keputusan adalah seperti yang dikemukakan oleh G.R. Terry (Maman Ukas, 1999:1121) yang terdiri dari empat dasar non kuantitatif yaitu : 1. Intuisi, 2. Fakta, 3. Pengalaman, 4. Opini yang dipertimbangkan.
Intuisi yaitu bilamana orang mengambil keputusan berdasarkan intuisi, maka hal tersebut ditandai dengan penggunaan “perasaan dalam” orang yang mengambil keputusan. Mungkin bahwa sebenarnya keputusan intuitif secara tidak sadar dipengaruhi oleh, pengalaman atau latihan-latihan yang dialaminya.
Fakta maksudnya biasanya fakta dianggap sebagai dasar yaang baik sekali untuk membuat keputusan-keputusan. Sebab justru dari fakta inilah kita dapat menganalisa, menggambarkan serta menarik kesimpulan untuk dapat mengambil keputusan terhadap masalah tersebut.
Pengalaman adalah guru terbaik dimana kita dapat bercermin pada waktu-waktu yang lampau dalam memecahkan soal-soal serupa. Tetapi kadang-kadang tidak semua orang mempunyai pengalaman yang cukup.
Opini-opini yang dipertimbangkan adalah keputusan yang diambil berdasarkan atas penggunaan logika dibelakang keputusan tersebut. Logika yang dibuat eksplisit dan diupayakan berdasarkan analisis situasi yang hati-hati. Disamping itu juga digunakan kuantifikasi daripada keputusan tentatif untuk pelaksanaannya dibantu dengan sejumlah angka-angka statistik yang bervariasi dan dikumpulkan serta dihubungkan dengan keputusan tersebut.
Kemudian dikenal pula teknik secara kuantitatif atau perhitungan secara sistematis seperti: Sampling, Linear Programming, Decision Theory, Correlation, game Theory, Indeks Number, time Series analysisi, Simulation, waiting Line Theory, PERT, Statistical Theory Control Chart, Inventory Models, Integral Production Models.
Teori sistem, analisis, model, formula pembuatan keputusan diatas adalah merupakan suatu cara, lambang yang abstrak untuk mendorong kearah realisasi keputusan perlu diberikan contoh-contoh atau skema/bagan yang akurat dan relevan. Keputusan yang rasional, logis dan sistematis adalah diperlukan seperti halnya ditunjukan oleh para ahli yang menekankan pada teori proses pembuatan keputusan melalui formula model matematika. (Maman Ukas, Manajemen, 1999:123).
4. KONDISI PEMBUATAN KEPUTUSAN
Situasi pembuatan keputusan sangat berpengaruh pada hasil keputusan yang dibuat. Ada beberapa hal yang bisa saja sudah diramalkaan ternyata melenceng dari perkiraan sebelumnya karena kondisi yang tidak memungkinkan. Maka dalam hal ini ada tiga kondisi yang dapat dikondisikan mempengaruhi dalam pembuatan keputusan yaitu: 1) pembuatan keputusan dengan kepastian, 2) Pembuatan keputusan dengan resiko, 3) Pembuatan keputusan dengan ketidakpastian. (Maman Ukas, Manajemen, 1999:126-128).
Permbuatan keputusan dengan kepastian yaitu dalam kondisi yang penuh kepastian para manajer dengan informasi yang lengkap terukur melalui standar yang telah ditentukan akan dapat menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan hasil keputusan yang diambilnya. Hal ini nampak pada pekerjaan atau berulang-ulang, dimana unsur-unsur yang diperlukan tersedia sehingga dalaam prosesnya dapat dikontrol yang kalaupun terjadi adanya penyimpangan akan segera dapat diatasi. Dengan demikian penyelesaiaan hasil keputusan dapat terjamin dicapai dengan pasti.
Pembuatan keputusan dengan resiko yaitu dalam kondisi yang penuh resiko, para manajer mengetahui akan kemungkinan hasil yang dicaapai, akan tetapi ia tidak mempunyai informasi yang lengkap sehingga pada beberapa hal tidak diketahui, tapi dapat diperkirakan berdasarkan pengalaman yang ada.
Pembuatan keputusan dengan ketidakpastian yaitu dalam kondisi ini para manajer tidak seyakin-yakinnya akan ramaalan masa depan. Kerena tidak memiliki informasi, situasinya baru sama sekali sehingga belum punya gambaran alternatif kemungkinan-kemungkinanya. Sama dengan mencari reruntuhan jatuhnya pesawat terbang pada hutan yang lebat, kabut tebal, maka manajer harus mengerahkan segala kemampuan berpikir, pengalaman dan bahkan intuisi untuk mempertimbangkan kira-kira kemungkinan alternatif yang paling mendekati atau mungkin samar-samar. Terutama dalam masa turbulensi segala ramalan akan bersifat coba-coba dan dalam keadaan ini mungkin harus lebih meningkatkan alternatif perkiraan, para manajer profesional dalam memecahkan persoalan baik yang pasti maupun yang beresiko dan tidak pasti, tidak cukup hanya mengandalkan informasi dan staff akan tetapi perlu mengecek kelapangan sehingga tingkat ketepatan informasi terpercaya, terandalkan serta terukur. Kalaupun terdapat kemencengan sangat sedikit dan kan dapat diantisipasi, sehingga kemungkinan terjadinya sesuatu sudah dapat diramalkan apakah positif atau negatif dan pemecahan masalahnya sudah tersedia.
Pada kenyataannya para manajer akan menghadapi situasi yang terus berubah sehingga dibutuhkan sikap dan strategi dalam menciptakan pendekatan dalam pembuatan keputusan. Segala faktor harus dipertimbangkan dan dikalkulasikan secara matang dan bulat sehingga dihasilkan pikiran terbaik dari pembuatan keputusan.
5. PEMBUATAN KEPUTUSAN KELOMPOK DAN INDIVIDUAL
Dalam situasi tertentu kadangkala manajer tidak bisa memutuskan sendiri suatu permasalahan, maka diperlukan saran dari bawahan sehingga hal ini bisa dikatakan sebagai keputusan kelompok. Pembuatan keputusan kelompok memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kebaikannya misalnya 1) dalam pengembangan tujuan, kelompok memberikan jumlah pengetahuan lebih besar, 2) dalam pengembangan alternatif lebih beragam dalam berbagai bidang fungsional organisasi,
3) penilaian alternatif lebih luas, 4) kelompok lebih dapat menerima resiko dibanding pembuatan keputusan individual, 5) motivasi dalam pelaksanaan keputusan lebih tinggi karena hasil keputusan bersama, 6) kreativitas dan interaksi antar individu berjalan baik.
Kelemahannya misalnya 1) walaupun keputusan kelompok tetap saja manajer yang bertanggung jawab dalam implementasinya, 2) memakan biaya cukup besar, 3) tidak efisien jika keputusan harus dibuat lebih cepat,
3) keputusan kadangkala hasil kompromi dari berbagai pihak, 5) jika ada aanggota kelompok yang dominan kadangkala keputusan bukan hasil keputusan kelompok.
Berbeda dengan keputusan kelompok maka keputusan individual adalah keputusan yang dihasilkan secara individu yang baik secaraa langsung atau tidak laangsung mempengaruhi pekerjaannya sendiri maupun secara organisasi.
Ada beberapa model keputusan individual menurut Stephen P. Robbins (1996:135-145) yaitu:
1. Model Pengambilan Keputusan Optimasi
Model Optimasi adalah suatu model pengambilan keputusan yang menguraikan bagaimana individu-individu seharusnya berprilaku agar memaksimalkan suatu hasil. Langkah-langkahnya adalah: 1) Pastikan kebutuhan akan suatu keputusan, 2) kenali kriteria keputusan, 3) Alokasikan bobot pada kriteria itu, 4) kembangkan alternatif-alternatif, 5) evaluasi alternatif-alternatif itu, 6) Pilihlah alternatif terbaik.
Model optimasi berisi sejumlah pengandaian yang merujuk konsep rasionalitas yaitu berisi pilihan-pilihan yang konsisiten dan memaksimalkan nilai.
2. Model Pengambilan Keputusan Alternatif
Model keputusan alternatif merupakan tinjauan ulang dari optimasi yaitu: model cukup memuaskan atau rasionalitas berikat, model pavorit implisit dan model intuitif.
Model cukup memuaskan adalah suatu model pengambilan keputusan dimana pengambil keputusan memilih pemecahan pertama yang cukup baik yaitu memuaskan dan cukup. Sedangkan rasionalitas berikat adalah individu-individu mengambil keputusan dengan merancang bangun model-model yang disederhanakan yang mengekstrak perwajahan yang mutlak perlu dari problem-problem tanpa menangkap semua kerumitannya.
Model Favorit implisit yaitu suatu model pengambilan keputusan dimana Secara dini dalam proses keputusan itu pengambil keputusan secara implisit memilih suatu alternatif yang lebih disukai dan memberatkesebelahi evaluasi dari semua pilihan lain. Model intuitif yaitu suatu proses pengambilan keputusan tak sadar yang diciptakan dari dalam pengalaman yang tersaring.
6. PRINSIP-PRINSIP DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN
Dalam mengambil keputusan dibutuhkan sikap profesionalisme yang tidak mencampuradukan kepentingan pribadi dengan kepentingan organisasi, sehingga tindakan dalam mengambil keputusan sesuai dengan prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh dan dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan.
Ada beberapa prinsip dalam mengambil keputusan menurut L.A. Allen (Maman Ukas, Manajemen, 1999:119) yaitu:
1) Prinsip definisi (Principle Definition)
Suatu keputusan yang logis hanya dapat diambil apabila sesuatu masalah ditentukan terlebih dahulu.
2) Prinsip yang memadai (Principle of adequate evidence)
Sesuatu keputusan yang logis harus sah dipandang dari segi sudut bukti atas mana keputusan itu diambil.
3) Prinsip identitas (Principle Identity)
Bergantung pada pangkal pandangan dan pangkal waktu, yang mana fakta-fakta mungkin nampak beda.
7. TAHAPAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan keputusan melewati berbagai tahapan, dalam hal ini ada empat tahap yang diperkenalkan Simon (Jogiyanto, STI, 2003:75) yaitu: Intelligence, design, choice dan implementation.
1) Intelligence adalah tahap pengumpulan informasi untuk mengidentifikasi permasalahannya. Pada tahap ini informasi yang dikumpulkan dapat diperoleh dari sistem informasi manajemen.
2) Design adalah tahap perancangan solusi dalam bentuk alternatif-alternatif pemecahan masalah. Tahap kedua ini dapat dilakukan dengan menggunakan decision supports system yang memberikan banyak alternatif pilihan solusi yang dapat dipilih.
3) Choice adalah tahap memilih solusi dari alternatif-alternatif yang disediakan oleh DSS.
4) Implementation adalah tahap melaksanakan keputusan dan melaporkan hasilnya.
Demikianlah artikel Pengambilan Keputusan. Semoga artikel ini bermanfaat dan apabila pembaca merasa terbantu mohon bagikan juga artikel ini pada yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Jogiyanto HM, MBA, Akt., Ph.D., 2003, Sistem Teknologi Informasi, Penerbit Andi : Yogyakarta
Maman Ukas, 1999, Manajemen konsep, Prinsip dan aplikasi, Penerbit Ossa Promo : Bandung.
Stepen Robbins, 1996, Perilaku Organisasi konsep, kontroversi dan aplikasi, PT. Prenhallindo : Jakarta.
T. Hani Handoko, 1984, Manajemen Edisi 2, BPFE : Yogyakarta.

