Model Pembelajaran Interaksi Sosial

Diskon : Pond’s Acne:5%.Teh Daun Jati Cina:78%.Naturgo Masker Lumpur:70%.
Salam jumpa, semoga sehat dan tetap semangat. Kali ini saya akan mencoba berbagi informasi tentang Model Pembelajaran Interaksi Sosial. Baiklah kita langsung saja.
Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru mengembangkan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi yang optimal.
Dengan demikian pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dirancang oleh guru agar siswa melakukan kegiatan belajar, untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan. Dalam merancang kegiatan pembelajaran ini, seorang guru semestinya memahami karakteristik siswa, tujuan pembelajaran, yang ingin dicapai atau kompetensi yang harus dikuasai siswa, materi ajar yang akan disajikan, dan cara yang digunakan terus mengemas penyajian materi serta penggunaan bentuk dan jenis penilaian yang akan dipilih untuk melakukan mengukuran terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran atau kompetensi yang telah dimiliki siswa.
Berkaitan dengan cara atau metode apa yang akan dipilih dan digunakan dalam kegiatan pembelajaran, seorang guru harus terlebih dahulu memahami berbagai pendakatan, strategi, dan model pembelajaran. Pemahaman tentang hal ini akan memberikan tuntutan kepada guru untuk dapat memilah, memilih, dan menetapkan dengan tepat metode pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran.
Perlu dipahami bahwa setiap pendekatan pembelajaran memiliki pandangan yang berbeda tentang konsepsi dan makna pembelajaran, pandangan tentang guru, dan pandangan tentang siswa, perbedaan inilah kemudian mengakibatkan strategi dan model pembelajaran yang dikembangkan menjadi berbeda juga, sehingga proses pembelajaran akan berbeda walaupun strategi pembelajaran sama.
1. Pengertian Model Pembelajaran
Strategi menurut Kemp (1995) adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapatnya Kemp, Dick and Carey (1985) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu perangkat materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada peserta didik atau siswa.Upaya mengimplementasikan rencana pembelajaran yang telah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun dapat tercapai secara optimal, maka diperlukan suatu metode yang digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, bisa terjadi suatu strategi pembelajaran menggunakan beberapa metode. Misalnya untuk melaksanakan strategi ekspositori bisa digunakan metode ceramah sekaligus metode tanya jawab atau bahkan diskusi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia termasuk menggunakan media pembelajaran. Oleh sebab itu, strategi berbeda dengan metode. Strategi menunjukan pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanak strategi. Dengan kata lain, setrategi adalah a plan of opration achieving something. Sedangkan metode adalah a way in achieving something.
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Roy Kellen (1998) mencatat bahwa terdapat dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru ( teacher-centered approaches). Pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centered approaches).Pendekatan yang berpusat pada guru yang menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruktion), pembelajaran dedutif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran inkuiri dan diskoveri serta pembelajaran induktif.
Sedangkan model-model pembelajaran sendiri biasanya disusun berdasarkan berbagai prinsip atau teori pengetahuan. Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran, teori-teori psikologis, sosiologis, analisis sistem, atau teori-teori lain yang mendukung ( Joyce & Weil; 1980). Joyce & weil mempelajari model-model pembelajaran berdasarkan teori belajar yang dikelompokan menjadi empat model pembelajara. Model tersebut merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Joice & Weil berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atu pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan–bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain (Joyce & Weil, 1980;1). Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.
2. Dasar Pertimbangan Pemilihan Model Pembelajaran
Sebelum menentukan model pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan guru dalam memilihnya, yaitu :
- Pertimbangan terhadap tujuan yang hendak dicapai. Pertanyaan – pertanyaan yang dapat diajukan adalah :
- Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenaan dengan kompetensi akademik, keperibadian, sosial dan kompetensi vokasional atau yang dulu diistilahkan dengan domain kognitif, afektif atau psikomotor?
- Bagaimana kompleksitas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai?
- Apakah untuk mencapai tujuan itu memerlukan keterampilan akademik?
- Pertimbangan yang berhubungan dengan bahasa atau materi membelajaran:
- Apakah materi pembelajaran itu berupa fakta, konsep, hukum atau teori tertentu?
- Apakah untuk mempelajari materi pembelajaran itu memerlukan prasyarat atau tidak?
- Apakah tersedia bahan utuk sumber – sumber yang relevan untuk mempelajari materi itu?
- Pertimbangan dari sudut peserta didik atau siswa
- Apakah model pembelajaran sesuai dengan tingkat kematangan peserta didik?
- Apakah model pembelajaran itu sesuai dengan minat, bakat, dan kondisi peserta didik?
- Apakah model pembelajaran itu sesuai dengan gaya belajar peserta didik?
- Pertimbangan lainnya yang bersifat non teknis
- Apakah untuk mencapai tujuan hanya cukup dengan satu model saja?
- Apakah model pembelajaran yang kita tetapkan dianggap satu-satunya model yang dapat digunakan ?
- Apakah model pembelajaran itu memiliki nilai evektifitas atau efisien?
3. Ciri-Ciri Model Pembelajaran
Model pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
- Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu. Sebagai contoh, model penelitian kelompok disusun oleh Herbert Thelen dan berdasarkan teori John Dewey. Model ini dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis.
- Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu, misalnya model berfikir induktif dirancang untuk mengembangkan proses berfikir induktif.
- Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas. Misalnya, model Synetic dirancang untuk memperbaiki kreativitas dalam belajar mengajar.
- Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan 1. Urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax) 2. Adanya prinsip-prinsip reaksi 3. Sistem sosial 4. Sistem pendukung. Keempat bagian tersebut merupakan pedoman praktis bila guru akan melaksanakan suatu model pembelajaran.
- Memiliki dampak sebagai akibat model pembelajaran. Dampak tersebut melipuri 1. Dampak pembelajaran, yaitu hasil belajar yang dapat diukur 2. Dampak pengiring, yaitu hasil belajar jangka panjang.
- Membuat persiapan mengajar (Desain instruksional) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya.
4. Model Interaksi Sosial
Model interaksi sosial adalah Model yang mengutamakan hubungan individu dengan masyarakat atau orang lain, dan memusatkan perhatiannya kepada proses dimana realita yang ada dipandang sebagai suatu negosiasi sosial. Model ini menekankan pada hubungan personal dan sosial kemasyarakatan diantara peserta didik yang berfokus pada peningkatan kemampuannya untuk berhubungan dengan orang lain, terlibat dalam proses-proses yang demokratis dan bekerja secara produktif dalam masyarakat.
Model interaksi sosial ini didasari oleh teori belajar Gestalt (field-theory). Model interaksi sosial yang menitikberatkan pada hubungan yang harmonis antara individu dengan masyarakat (learning to life together). Teori pembelajaran Gestalt dirintis oleh Max Wertheimer (1912) bersama dengan Kurt Koffka dan W. Kohler. Mereka mengadakan eksperimen mengenai pengamatan visual dengan fenomena fisik. Percobaannya yang dilakukan memproyeksikan titik-titik cahaya (keseluruhan lebih penting dari pada bagian).
Pokok pandangan Gestalt adalah objek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai suatu keseluruhan yang terorganisasikan. Makna suatu objek/peristiwa adalah terletak pada keseluruhan bentuk (Gestalt) dan bukan bagian-bagiannya. Pembelajaran akan lebih bermakna bila materi diberikan secara utuh bukan bagian-bagian.
Aplikasi teori Gestalt dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
- Pengalaman insight. Dalam proses pembelajaran peserta didik hendaknya memiliki kemampuan insight yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu objek. Guru hendaknya mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah dengan insight.
- Pembelajaran yang bermakna. Kebermaknaan unsur-unsur yang terkait dalam suatu objek akan menunjang pembentukan pemahaman dalam proses pembelajaran. Content yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas baik bagi dirinya maupun bagi kehidupannya di masa yang akan datang.
- Perilaku bertujuan. Perilaku terarah pada suatu tujuan. Perilaku di samping ada kaitan dengan SR-bond, juga terkait erat dengan tujuan yang hendak dicapai. Pembelajaran terjadi karena peserta didik memiliki harapan tertentu. Oleh sebab itu, pembelajaran akan berhasil bila peserta didik mengetahui tujuan yang akan dicapai.
- Prinsip ruang hidup (Life space). Prinsip ini dikembangkan oleh Kurt Lewin (teori medan field theory). Prinsip ini menyatakan bahwa perilaku peserta didik terkait dengan lingkungan/medan tempat ia berada. Materi yang disampaikan hendaknya memiliki kaitan dengan situasi lingkungan tempat peserta didik berada (CTL).
- Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat.
5. Starategi Pembelajaran Interaksi Sosial
Model pembelajaran yang termasuk dalam bagian model interaksi sosial, diantaranya :
A. Kerja Kelompok
- Pengertian Metode kerja kelompok
Metode kerja kelompok adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan menyuruh pelajar (setelah dikelompok-kelompokkan) mengerjakan tugas tertentu untuk mencapai tujuan pengajaran,mereka bekerja sama dalam memecahkan masalah atau melaksanakan tugas.Istilah kerja kelompok mengandung arti bahwa siswa-siswa dalam suatu kelas dibagi dalam beberapa kelompok baik kelompok yang kecil maupun kelompok yang besar. Pengelompokan biasanya didasarkan atas prinsip untuk mencapai tujuan bersama.
Jadi, metode kerja kelompok ialah kerja kelompok dari beberapa individu yang bersifat pedagogik yang didalamnya terdapat hubungan timbal balik (kerja sama) antara individu yang saling mempercayai. - Adapun pengelompokkan itu didasarkan pada :
a. Adanya alat pelajaran yang tidak mencukupi jumlahnya
b. Pengelompokan berdasarkan kemampuan belajar
c. Pengelompokkan berdasarkan minat individu
d. Memperbesar partisipasi siswa
e. Pemberian tugas atau pekerjaan
f. Kerja efektif - Kerja kelompok dibagi menjadi 3 macam yaitu
a. Kerja kelompok berjangka pendek
b. Kerja kelompok berjangka panjang
c. Kerja kelompok Campuran - Kelebihan dan Kekurangan Kerja Kelompok
Kelebihan metode kerja kelompok- Para siswa lebih aktif tergabung dalam pelajaran mereka
- Memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan kemampuan para siswa
- Dapat memberikan kesempatan pada para siswa untuk lebih menggunakan ketrampilan bertanya dalam membahas suatu masalah
- Mengembangkan bakat kepemimpinan para siswa serta mengerjakan ketrampilan berdiskusi.
Kelemahan metode kerja kelompok
-
- Kerja kelompok terkadang hanya melibatkan para siswa yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang
- eberhasilan strategi ini tergantung kemampuan siswa memimpin kelompok atau untuk bekerja sendiri-sendiri
- Kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda dan daya guna mengajar yang berbeda pula.
B. Pertemuan Kelas
1. Pengertian Model pertemuan kelas
Model pertemuan kelas adalah model pembejaran yang terjadi didalam kelas yang melibatkan pendidik dan peserta didik didalamnya yang bekerja sama untuk menciptakan suasana belajar yang hangat dan damai didalamnya demi terciptanya pembelajaran yang optimal.
Model pertemuan kelas ini guru dituntut untuk bersikap hangat, sabar kepada peserta didik, terampil dalam mengelola hubungan interpersonal dan berkepribadian yang baik demi terciptanya suasana kelas yang baik. Keterlibatan pendidik dengan penuh kehangatan dan bersifat pribadi yang memungkinkan para siswa berperilaku realistik.
2. Model pertemuan (diskusi) kelas terdiri atas enam tahap, yaitu :
a. menciptakan iklim yang mengundang keterlibatan
b. menyampaikan permasalahan diskusi
c. mengembangkan pertimbangan nilai personal
d. mengidentifikasi alternatif tindakan
e. merumuskan kesepakatan
f. merencanakan tindak lanjut prilaku
3. Kelebihan dan Kekurangan Model pembelajaran Classroom Meeting :
Kelebihannya
- Dapat mengetahui karakteristik masing-masing siswa.
- Dapat membuat siswa senang karena bisa berkumpul dengan teman-teman yang belum dan yang sudah mereka kenal.
- Siswa dapat menanyakan secara langsung jika ada yang tidak dimengerti kepada guru.
- Dapat memecahkan masalah secara langsung
Kekurangannya
- Membutuhkan tenaga yang lebih banyak.
- Terkadang ada ketidak cocokan antara siswa dan guru.
- Terkadang terjadi perselisihan antara siswa dengan siswa
- Tidak ada guru maka proses belajar dan mengajar tidak bisa terlaksana.
- Harus menentukan waktu dan tempat untuk proses belajar mengajar
C. Sosial Inquiry
1. Pengertian Sosial Inquiry
Inquiry merupakan pendekatan pembelajaran di mana siswa menemukan, menggunakan variasi sumber informasi dan ide untuk lebih memahami, suatu permasalahan, topik, atau isu. Hal ini tidak hanya sekedar menjawab pertanyaan tetapi juga melalui investigasi, eksplorasi, mencari, bertanya, meneliti, dan mempelajari. (Kuhlthau, 2007 yang dikutip dalam Sumarmi, 2012: 17).
Sanjaya menyatakan, ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi model pembelajaran Inquiry (inkuiri).
Pertama, model pembelajaran Inquiry (inkuiri) menekankan kepada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya pendekatan inquiry menempatkan siswa sebagai subjek belajar.
Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Artinya dalam model pembelajaran Inquiry (inkuiri) menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan.
Ketiga, model pembelajaran Inquiry (inkuiri) adalah mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental, akibatnya dalam pembelajaran inquiry siswa tidak hanya dituntut agar menguasai pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.
2. Langkah-langkah metode pembelajaran Inquiry
- Merumuskan masalah. Dalam hal ini, kemampuan yang dituntut yakni kesadaran terhadap masalah, melihat pentingnya masalah, dan merumuskan masalah.
- Mengembangkan hipotesis. Dalam hal ini kemampuan yang dituntut dalam mengembangkan hipotesis yakni menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh, melihat dan merumuskan hubungan yang ada secara logis, dan merumuskan hipotesis.
- Menguji jawaban tentative. Dalam hal ini, kemampuan yang dituntut antara lain
- merakit peristiwa yang terdiri atas mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan, mengumpulkan data, mengevaluasi data, dan mengklasifikasi data;
- analisis data yang terdiri atas melihat hubungan, mencatat persamaan dan perbedaan, dan mengidentifikasi trend, sekuensi, dan keteraturan.
- Menarik kesimpulan. Dalam hal ini, kemampuan yang dituntut yakni
– mencari pola dan makna hubungan; sekaligus
– merumuskan kesimpulan - Menerapkan kesimpulan dan generalisasi (Sumarmi, 2012: 18)
3. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan metode pembelajaran inquiry
- Mengembangkan keteramapilan sosial, bahasa, dan membaca
- Mengonstruksi pemahaman mereka.
- Membuat siswa mandiri dalam riset dan pembelajaran.
- Termotivasi untuk membentuk pengalaman tingkat tinggi.
- Memiliki strategi belajar dan terampil mentransfer pada proyek inquiry yang lain (Kuhlthau, 2007)
Kekurangan metode pembelajaran inquiry
- Memerlukan perubahan kebiasaan cara belajar siswa yang menerima informasi dari guru apa adanya, ke arah membiasakan belajar mandiri dan berkelompok dengan mencari dan mengolah informasi sendiri.
- Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar.
- Metode ini memberikan kebebasan pada siswa dalam belajar, tetapi tidak berarti menjamin bahwa siswa belajar dengan tekun, penuh aktivitas, dan terarah.
- Cara belajar siswa dalam metode ini menuntut bimbingan guru yang lebih baik.
4. Bermain Peran
1. Pengertian Bermain Peran
Peran dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian perasaan, ucapan dan tindakan, sebagai suatu pola hubungan unik yang ditunjukkan oleh individu terhadap individu lain. Peran yang dimainkan individu dalam hidupnya dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap dirinya dan terhadap orang lain.
Bermain peran dalam pembelajaran merupakan usaha untuk memecahkan masalah melalui peragaan, serta langkah-langkah identifikasi masalah, analisis, pemeranan, dan diskusi.
Bermain peran (role playing) merupakan sebuah permainan di mana para pemain memainkan peran tokoh-tokoh khayalan dan berkolaborasi untuk merajut sebuah cerita bersama. Para pemain memilih aksi tokoh-tokoh mereka berdasarkan karakteristik tokoh tersebut, dan keberhasilan aksi mereka tergantung dari sistem peraturan permainan yang telah ditetapkan dan ditentukan, asalkan tetap mengikuti peraturan yang ditetapkan, para pemain bisa berimprovisasi membentuk arah dan hasil akhir permaian.
Jadi dapat diambil kesimpulan Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan.
2. Tujuan Metode Bermain Peran ( Role Playing )
Ali (2000 : 84) menyatakan bahwa tujuan bermain peran adalah menggambarkan suatu peristiwa masa alampau atau dapat pula cerita dimulai dengan bebagai kemungkinan yang terjadi baik kini maupun mendatang kemudian ditunjuk beberapa siswa untuk melakukan peran sesuai dengan tujuan cerita. Pemeran melakukan sendiri peranannya sesuai dengan daya imajinasi tentang pokok yang diperankannya.
Sudjana (1989 : 90) mengemukakan bahwa tujuan bermain peran adalah :
– Agar siswa dapat menghayati perasaan orang lain.
– Dapat belajar sebagaimana membagi tanggung jawab.
– Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan.
– Merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah.
Lain halnya dengan Hamalik (2002 : 138) yang mengatakan bahwa tujuan bermain peran adalah menciptakan kembali gambaran historis masa silam, peristiwa yang mungkin terjadi pada masa mendatang, peristiwa-peristiwa sekarang yang berarti atau situasi-situasi bayangan pada suatu tempat dan waktu tertentu.
Sudjana (2000 : 90) menjelaskan bahwa tujuan bermain peran adalah agar siswa dapat menghargai dan menghayati perasan orang lain, memupuk rasa tanggung jawab pada diri siswa.
3. Karakteristik dalam Metode Bermain Peran
Terdapat lima karakteristik bermain peran, yaitu :
- Merupakan sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai yang positif bagi anak.
- Didasari motivasi yang muncul dari dalam. Jadi anak melakukan kegiatan itu atas kemauannya sendiri.
- Sifatnya spontan dan sukarela, bukan merupakan kewajiban. Anak merasa bebas memilih apa saja yang ingin dijadikan alternatif bagi kegiatan bermainnya.
- Senantiasa melibatkan peran aktif dari anak, baik secara fisik maupun mental.
- Memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti kemampuan kreatif, memecahkan masalah, kemampian berbahasa, kemampuan memperoleh teman sebanyak mungkin dan sebagainya.
4. Kelebihan dan kekurangan metode role playing
Kelebihannya :
- Siswa melatih dirinya untuk memahami dan mengingat isi bahan yang akan diperankan. Sebagai pemain harus memahami, menghayati isi cerita secara keseluruhan, terutama untuk materi yang harus diperankannya. Dengan demikian, daya ingatan siswa harus tajam dan tahan lama.
- Siswa akan berlatih untuk berinisiatif dan berkreatif. Pada waktu bermain peran para pemain dituntut untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan waktu yang tersedia.
- Bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni drama dari sekolah.
- Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya.
- Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya
- Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang lebih baik agar mudah dipahami orang lain.
Kekurangannya :
- Sebagian anak yang tidak ikut bermain peran menjadi kurang aktif.
- Banyak memakan waktu.
- Memerlukan tempat yang cukup luas.
- Sering kelas lain merasa terganggu oleh suara para pemain dan tepuk tangan penonton/pengamat.
E. Simulasi Sosial
1. Pengertian Simulasi Sosial
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu.
Model pembelajaran ini diterapkan didalam dunia pendidikan dengan tujuan mengaktifkan kemampuan yang dianalogikan dengan proses sibernetika. Pendekatan simulasi dirancang agar mendekati kenyataan dimana gerakan yang dianggap kompleks sengaja dikontrol, misalnya, dalam proses simulasi ini dilakukan dengan menggunakan simulator.
2. Tujuan Model Pembelajaran Simulasi
Model pembelajaran simulasi bertujuan untuk:
– melatih keterampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari,
– memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip,
– melatih memecahkan masalah,
– meningkatkan keaktifan belajar,
– memberikan motivasi belajar kepada siswa,
– melatih siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi kelompok,
– menumbuhkan daya kreatif siswa, dan
– melatih siswa untuk mengembangkan sikap toleransi.
3. Prinsip dalam Proses Pelaksanaan Simulasi
Proses simulasi tergantung pada peran guru/fasilitator. Ada empat prinsip yang harus dipegang oleh fasilitator/guru, yakni sebagai berikut :
– Pertama adalah penjelasan.
– Kedua adalah mengawasi (refereeing).
– Ketiga adalah melatih (coaching).
– Keempat adalah diskusi.
4. Yang Harus Dilakukan Guru/ Fasilitator Dalam Pembelajaran Simulasi
Dalam permainan simulasi, yang harus dilakukan oleh guru adalah :
- Mempersiapkan siswa yang menjadi pemeran simulasi,
- Menyusun skenario dengan memperkenalkan siswa terhadap aturan, peran, prosedur, pemberi skor (nilai), tujuan permainan dan lain- lain.
- Melaksanakan simulasi, siswa berpartisipasi dalam permainan simulasi dan guru melakukan peranannya sebagimana mestinya. (Hamzah B Uno, 2007:30)
5. Fungsi Model Pembelajaran Sosial
Fungsi model pembelajaran sosial adalah :
– untuk menggali perasaan siswa,
– memperoleh inspirasi dan pemahaman yang berpengaruh terhadap sikap, nilai dan persepsi,
– mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah, dan
– mendalami mata pelajaran dengan berbagai cara.
6. Aplikasi/ Penerapan Model Pembelajaran Simulasi
- Permainan simulasi dapat merangsang berbagai bentuk belajar, seperti belajar tentang persaingan (kompetisi), kerja sama, empati, sistem sosial, konsep, keterampilan, kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan dan lain-lain.
- Namun demikian, model simulasi agak berbeda dengan model-model lain. Model ini agak rumit, tergantung pada pengembangan simulasi yang tepat, baik yang melibatkan peneliti, pengembang, (sistem analis, programer dan lain-lain), perusahaan komersial, guru atau kelompok guru dan lain-lain.
- Dewasa ini, dengan semakin majunya teknologi komunikasi dan informasi, seperti komputer dan multimedia, telah banyak permainan simulasi dihasilkan untuk berbagai kebutuhan yang mencakup berbagai topik dari berbagai disiplin ilmu (mata pelajaran)
7. Sintak (Prosedur/ langkah – Langkah) Pembelajaran Simulasi
Menurut Joyce dan Weil (1980) dalam Udin (2001:66), model ini memiliki 4 tahap sebagai berikut :
1. Tahap Orientasi
- Menyediakan berbagai topik simulasi dan konsep-konsep yang akan diintegrasikan dalam proses simulasi.
- Menjelaskan prinsip Simulasi dan permainan.
- Memberikan gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi.
2. Tahap Latihan bagi peserta
- Membuat skenario yang berisi aturan, peranan, langkah, pencatatan, bentuk keputusan yang harus dibuat, dan tujuan yang akan dicapai.
- Menugaskan para pemeran dalam simulasi
- Mencoba secara singkat suatu episode
3. Tahap Proses simulasi
– Melaksanakan aktivitas permainan dan pengaturan kegiatan tersebut.
– Memperoleh umpan balik dan evaluasi dari hasil pengamatan terhadap performan si pemeran.
– Menjernihkan hal-hal yang miskonsepsional
– Melanjutkan permainan/simulasi
4. Tahap Pemantapan dan debriefing
– Memberikan ringkasan mengenai kejadian dan persepsi yang timbul selama simulasi.
– Memberikan ringkasan mengenai kesulitan-kesulitan dan wawasan para peserta.
– Menganalisis proses
– Membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata.
– Menghubungkan proses simulasi dengan isi pelajaran.
– Menilai dan merancang kembali simulasi.
8. Kelebihan Dan Kelemahan Model Pembelajaran Simulasi
Wina Sanjaya (2007) menyatakan bahwa terdapat beberapa kelebihan dan kelemahan dengan menggunakan simulasi sebagai metode mengajar.
Kelebihan Model pembelajaran ini di antaranya adalah :
- Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya kelak, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun menghadapi dunia kerja.
- Simulasi dapat mengembangkan kreativitas siswa, karena melalui simulasi siswa diberi kesempatan untuk memainkan peranan sesuai dengan topik yang disimulasikan.
- Simulasi dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa.
- Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis.
- Simulasi dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses permbelajaran.
Kelemahan model pembelajaran ini, di antaranya adalah:
- Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan di lapangan.
- Pengelolaan yang kurang baik, sering simulasi dijadikan sebagai alat hiburan, sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.
- Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering memengaruhi siswa dalam melakukan simulas
Dalam pembahasan model pembelajaran interaksi sosial yang menitik beratkan pembahasan pada “Inkuri Sosial / Sosial Inquiry”. Sebagaimana telah uraikan diatas bahwa Inquiry merupakan pendekatan pembelajaran di mana siswa menemukan, menggunakan variasi sumber informasi dan ide untuk lebih memahami, suatu permasalahan, topik, atau isu. Hal ini tidak hanya sekedar menjawab pertanyaan tetapi juga melalui investigasi, eksplorasi, mencari, bertanya, meneliti, dan mempelajari. (Kuhlthau, 2007 yang dikutip dalam Sumarmi, 2012 : 17).
Menurut Joyce and Weil (2000), inkuiri sosial adalah model pembelajaran yang menekankan kepada pengalaman siswa untuk memecahkan masalah sosial melalui langkah-langkah dan prosedur pemecahan masalah. Menurut Bruce Joyce (2000), inkuiri sosial merupakan strategi pembelajaran dari kelompok sosial subkelompok konsep masyarakat. Subkelompok ini didasarkan pada asumsi bahwa metode pendidikan bertujuan untuk mengembangkan anggota masyarakat ideal yang dapat hidup dan dapat mempertinggi kualitas kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus diberi pengalaman yang memadai bagaimana caranya memecahkan persoalan-persoalan yang muncul di masyarakat. Melalui pengalaman itulah setiap individu akan dapat membangun pengetahuan yang berguna bagi diri dan masyarakatnya.
Sementara menurut Bruce Joyce, inkuiri sosial merupakan strategi pembelajaran dari kelompok sosial (social family) subkelompok konsep masyarakat (concept of society). Subkelompok ini didasarkan pada asumsi bahwa metode pendidikan bertujuan untuk mengembangkan anggota masyarakat ideal yang dapat hidup dan dapat mempertinggi kualitas kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus diberi pengalaman yang memadai bagaimana caranya memecahkan persoalan-persoalan yang muncul di masyarakat. Melalui pengalaman itulah setiap individu akan dapat membangun pengetahuan yang berguna bagi diri dan masyarakatnya.
Dari pendapat-pendapat ahli mengenai pengertian model inkuiri sosial dapat ditarik kesimpulan bahwa inkuiri sosial pada hakekatnya merupakan model pembelajaran yang menekankan kepada pengalaman siswa untuk memecahkan suatu masalah sosial melalui langkah-langkah dan prosedur pemecahan masalah yang didasarkan kepada fakta-fakta yang ada. Hal ini berarti dengan inkuiri sosial siswa di tuntut untuk mencari dan menemukan jawaban atau kesimpulan dari pertanyaan yang dipermasalahkan.
Hakikat tersebut sesuai dengan pendapat Clark (dalam Isjoni, 2007) yang lebih memandang inkuiri sosial sebagai suatu metode mengajar “Teaching by inquiry method is teaching in which pupils find answer and draw conclusions for themselves”. Atas dasar hakikat di atas, maka tujuan penggunaan inkuiri sosial adalah untuk mengembangkan kemampuan intelektual melalui proses berpikir. Sedangkan menurut Alma (2008:110) strategi pembelajaran inkuiri sosial berfungsi mengembangkan kemampuan siswa untuk memikirkan secara sungguh-sungguh dan terarah dan merefleksikan hakikat sosial kehidupan khususnya kehidupan siswa sendiri dan arah kehidupan masyarakat dalam upaya memecahkan masalah sosial.
Banks (1985) menyatakan bahwa pembelajaran melalui model inkuiri sosial ini dapat dilakukan sejak siswa berada pada jenjang sekolah dasar, hanya penekanannya tidak pada langkah-langkah inkuiri melainkan lebih kepada memperkenalkan fakta, konsep, dan generalisasi. Hal ini dikembangkan melalui strategi bertanya, siswa dikondisikan untuk bertanya sehingga kemampuan berpikir kritis sudah mulai dikembangkan sejak pendidikan dasar. Dengan demikian, melalui pembelajaran inkuiri sosial ini, peserta didik sudah dilatih sejak dini untuk menjadi seorang ilmuwan.
Karakteristik Model Inkuiri Sosial
Adapun karakteristik model inkuiri sosial dalam pembelajaran yaitu :
- Adanya aspek (masalah) sosial dalam kelas yang dianggap penting dan dapat mendorong terciptanya diskusi kelas. Sehingga dengan adanya diskusi mendorong aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya pembelajaran ini menempatkan siswa sebagai subyek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan mencari dan menemukan jawaban atau kesimpulan dari masalah sosial.
- Adanya rumusan hipotesis sebagai fokus untuk inkuiri.
- Penggunaan fakta sebagai pengujian hipotesis, artinya data-data sebagai penguji hipotesis yang telah dirumuskan haruslah berdasarkan fakta atau kenyataan yang ada disekitar.
Prinsip-prinsip Penggunaan Model Inkuiri Sosial
Model inkuiri sosial merupakan model yang menekankan kepada pengembangan anak. Perkembangan mental (intelektual) menurut Piaget (dalam Sanjaya, 2006: 196) dipengaruhi oleh :
- Maturation (kematangan) adalah proses perubahan fisiologis dan anatomis, yaitu proses pertumbuhan fisik, yang meliputi pertumbuhan tubuh, pertumbuhan otak, dan pertumbuhan sistem saraf.
- Physical experience (tindakan pisik) adalah tindakan-tindakan fisik yang dilakukan individu terhadap benda-benda yang ada di lingkungan sekitarnya.
- Social experience (tindakan sosial) adalah aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain. Ada dua aspek pengalaman sosial yang dapat membantu perkembangan intelektual. Pertama, pengalaman sosial akan dapat mengembangkan kemampuan berbahasa. Dan kedua, melalui pengalaman sosial anak akan mengurangi egosentriknya.
- Equilibration (proses penyesuaian) adalah proses penyesuaian antara pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru yang ditemukannya.
Sehingga dalam penggunaan model pembelajaran inkuiri sosial terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh guru yaitu :
- Berorientasi pada pengembangan intelektual
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, strategi pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses pembelajaran. Karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan strategi inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu. Kata ”sesuatu” berarti gagasan yang dapat ditemukan. - Prinsip interaksi
Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan agar siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka. - Prinsip bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan strategi pembelajaran inkuiri adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Oleh sebab itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan. Peranan bertanya dalam kegiatan pembelajaran (Gulo, 2008:102) ialah :
a. Melengkapi kemampuan berceramah
b. Mengubah kemampuan berceramah
c. Meningkatkan kadar Cara Belajar Siswa Aktif
d. Sikap inkuiri bertitik tolak pada bertanya
e. Mengubah persepsi yang keliru terhadap bertanya
Sedangkan kegiatan bertanya berfungsi untuk :
a. Mengembangkan minat dan keingintahuan
b. Memusatkan perhatian pada pokok masalah
c. Mendiagnosis kesulitan belajar
d. Meningkatkan kadar Cara Belajar Siswa Aktif
e. Kemampuan memahami informasi
f. Kemampuan mengemukakan pendapat
g. Mengukur hasil belajar
Bertanya sebagai alat untuk mengembangkan pengetahuan dapat dibagi menjadi dua kelompok (Gulo, 2008:103) yaitu (1) Bertanya dasar, bertanya untuk mengembangkan kemampuan berpikir dasar. Dimana dengan prinsip jelas-singkat, acuan, pemusatan, giliran (horizontal), penyebaran, waktu berpikir dan tuntunan (2) Bertanya lanjutan, bertanya untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif-inovatif.
Sedangkan menurut Banks (1990:123) ada beberapa jenis pertanyaan tingkat tinggi yaitu :
a. Pertanyaan pengetahuan
b. Pertanyaan menyeluruh
c. Pertanyaan penerapan
d. Pertanyaan analisis
e. Pertanyaan sintesis
f. Pertanyaan evaluasi dan
g. Pertanyaan kreatif dan divergen - Prinsip belajar untuk berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Belajar yang hanya cenderung memanfaatkan otak kiri, misalnya dengan memaksa anak untuk berpikir logis dan rasional, akan membuat anak dalam posisi ”kering dan hampa”. Oleh karena itu, belajar berpikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan, misalnya dengan memasukkan unsur-unsur yang dapat mempengaruhi emosi. Menurut Gulo (2008:87) untuk mengenal berbagai cara berpikir siswa, terutama dalam mereka berinkuiri, perlu kita kenal beberapa cara berpikir pada umumnya yaitu :
a. Berpikir urutan
b. Berpikir bertentangan
c. Berpikir asosiasi
d. Berpikir kausalitas
e. Berpikir konsentris
f. Berpikir konvergen
g. Berpikir divergen
h. Berpikir silogisme - Prinsip keterbukaan
Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesuatu mungkin saja terjadi oleh sebab itu, anak perlu diberi kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.
Kelebihan dan Kekurangan Model Inkuiri Sosial
Kelebihan metode pembelajaran inquiry- Mengembangkan keteramapilan sosial, bahasa, dan membaca
- Mengonstruksi pemahaman mereka.
- Membuat siswa mandiri dalam riset dan pembelajaran.
- Termotivasi untuk membentuk pengalaman tingkat tinggi.
- Memiliki strategi belajar dan terampil mentransfer pada proyek inquiry yang lain (Kuhlthau, 2007)
Kekurangan metode pembelajaran inquiry
-
- Memerlukan perubahan kebiasaan cara belajar siswa yang menerima informasi dari guru apa adanya, ke arah membiasakan belajar mandiri dan berkelompok dengan mencari dan mengolah informasi sendiri.
- Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar.
- Metode ini memberikan kebebasan pada siswa dalam belajar, tetapi tidak berarti menjamin bahwa siswa belajar dengan tekun, penuh aktivitas, dan terarah.
- Cara belajar siswa dalam metode ini menuntut bimbingan guru yang lebih baik.
Contoh Kasus
Untuk memperjelas dan memperkuat tentang Sosial Inquiry penyusun mengambil sebuah contoh tentang masalah materi arus lingkaran kegiatan ekonomi (circular flow diagram) kelas XI semester 1, guru memberikan sebuah tagihan tugas kepada siswa berbentuk bagan arus lingkaran ekonomi 2 sektor, 3 sektor dan 4 sektor.
Solusi Kasus
Untuk menyelesaikan masalah dari contoh tersebut, siswa yang dibimbing oleh guru melakukan langkah-langkah tahapan proses pembelajaran inkuiri sosial dapat dilaksanakan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Tahap Orientasi
Langkah yang pertama ini dimaksudkan untuk membina suasana/iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran, guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan pembelajaran inkuiri sosial sangat tergantung pada kamauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah; tanpa kemauan dan kemampuan itu tak mungkin proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi ini adalah :
- Menjelaskan topik, tujuan dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
- Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
- Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.
2. Tahap Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Poses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir. Dengan demikian, teka-teki yang menjadi masalah dalam berinkuiri adalah teka-teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan. Ini penting dalam pembeIajaran inkuiri. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah, diantaranya :
- Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Siswa akan memiliki motivasi belajar yang tinggi manakala dilibatkan dalam merumuskan masalah yang hendak dikaji. Dengan demikian, guru sebaiknya tidak merumuskan sendiri masalah pembelajaran, guru hanya memberikan topik yang akan dipelajari, sedangkan bagaimana rumusan masalah yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan sebaiknya diserahkan kepada siswa.
- Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti. Artinya, guru perlu mendorong agar siswa dapat merumuskan masalah yang menurut guru jawaban sebenarnya sudah ada, tinggal siswa mencari dan mendapatkan jawabannya secara pasti.
- Monsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa. Artinya, sebelum masalah itu dikaji lebih jauh melalui proses inkuiri, guru perlu yakin terlebih dahulu bahwa siswa sudah memiliki pemahaman tentang konsep-konsep yang ada dalam rumusan masalah. Jangan harapkan siswa dapat melakukan tahapan inkuiri selanjutnya, manakala ia belum paham konsep-konsep yang terkandung dalam rumusan masalah.
3. Tahap Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Potensi berpikir itu dimulai dari kemampuan setiap individu untuk menebak atau mengira-ngira (berhipotesis) dari suatu permasalahan. Manakala individu dapat membuktikan tebakannya, maka ia akan sampai pada posisi yang bisa mendorong untuk berpikir lebih lanjut. Oleh sebab itu, potensi untuk mengembangkan kemampuan menebak pada setiap individu harus dibina. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah (dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dan suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis.
4. Tahap Eksplorasi/Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya. Oleh sebab itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaanpertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan. Sering terjadi kemacetan berinkuiri adalah manakala siswa tidak apresiatif terhadap pokok permasalahan. Tidak apresiatif itu biasanya ditunjukkan oleh gejala-gejala ketidakbergairahan dalam belajar. Manakala guru menemukan gejala-gejala semacam ini, maka guru hendaknya secara terus-menerus memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar melalui penyuguhan berbagai jenis pertanyaan secara menata kepada seluruh siswa sehingga mereka terangsang untuk berpikir.
5. Tahap Menguji Hipotesis
Proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji bipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Disamping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Tahap Generalisasi/Merumuskan Kesimpulan
Proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gongnya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, oleh karena banyaknya data yang diperoleh, menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
Demikianlah artikel tentang Model Pembelajaran Interaksi Sosial. Semoga artikel ini bermanfaat dan apabila pembaca merasa terbantu mohon bagikan juga artikel ini pada yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
- Arikunto, Sukardjono, Supardi, 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta Bumi Aksara.
- Charin, Arthur, 1993, Theaching Science Through Discovery, New York, Mcmilan Publishing Company.
- Dahar, 1996, Konstruktivisme dalam Pendidikan Bahasa Indonesia, Makalah dalam forum komunikasi integrasi vertikal pendidikan sains di cisarua bogor.
- Depdiknas, 2003, Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif, Jakarta, Depdiknas.
- Oemar Hamalik, 2004, Media Pendidikan, Bandung, PT Citra Aditya Bhakti.
- Helen, 2003, Belajar Aktif dan Terpadu, Surabaya, Duta Graha Pustaka.
- Hernawan, 2007, Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta, Universitas Terbuka.
- ________, ___________, Interaksi Sosial, metode pembelajarankhususpai, http://metodepembelajarankhususpai.blogspot.co.id/p/blog-page_8.html, diakses pada tanggal 20 Oktober 2016, jam 15.00 WIB.
- Walgy Full Hope, ___________, Model Inkuiri sosial, walgyfullhope, http://walgyfullhope.blogspot.co.id/2014/06/model-inkuiri-sosial_1831.html, diakses pada tanggal 20 Oktober 2016, jam 15.00 WIB.




