Model Pembelajaran Personal Humanistik


Diskon : Pond’s Acne:5%.Teh Daun Jati Cina:78%.Naturgo Masker Lumpur:70%.

Salam jumpa, semoga sehat dan tetap semangat. Kali ini saya akan mencoba berbagi informasi tentang Model Pembelajaran Personal Humanistik. Baiklah kita langsung saja.

Salah satu bukti adanya Allah SWT adalah kemampuan menciptakan makhluk-Nya dalam wujud yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Manusia memiliki karakteristik, ciri pisik, dan sifat yang unik/berbeda satu dengan yang lainnya. Tidak ada satupun manusia yang diciptakan dalam wujud dan bentuk yang sama persis bahkan kembar siam sekalipun. Disamping itu, beberapa faktor eksternal diluar diri manusia, seperti faktor budaya, agama, adat, bahasa, suku, pendidikan, bahkan cara berpikir turut memperkuat keunikan perbedaan antara satu individu dengan individu yang lainnya.
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT agar menjadi manusia yang bermakna dan berguna bagi nusa dan bangsa, maka manusia diarahkan untuk belajar dan berinteraksi dengan manusia lain dan lingkungannya melalui dunia pendidikan. Dunia pendidikan memberikan banyak wadah untuk manusia dalam menumbuh kembangkan pengetahuan, minat dan bakat. Misalnya saja sekolah. Manusia sebagai subjek belajar dalam dunia pendidikan disebut peserta didik. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal selain sebagai tempat peserta didik untuk belajar, mengembangkan minat dan bakat, sekolah juga mengajarkan peserta didik untuk saling berinteraksi, memahami, bekerjasama, dan menghargai suatu perbedaan. Dikarenakan, peserta didik sebagai subjek belajar memiliki keragaman karakter, kecerdasan, kecenderungan, kemampuan, minat, bakat, motivasi. Peserta didik dalam mencapai tujuannya dapat berinteraksi dengan peserta didik lain, guru, sumber belajar, dan lingkungan belajar.
Kurikulum 2013, mengembangkan proses pembelajaran yang bersifat student centered (peserta didik sebagai subjek belajar) dan guru sebagai fasilitator, moivator, dan evaluator. Guru dalam proses pembelajaran harus dapat mengarahkan, memfasilitasi peserta didik sebagai subjek belajar. Guru harus mampu membantu peserta didik dalam mencapai tujuannya dan memecahkan masalah. Evaluasi pada kurikulum 2013 bukan pada sebuah angka yang tinggi tetapi pada sebuah proses yang memberikan kepuasan hati bagi peserta didik. Ranah evalusi tidak hanya berpusat pada aspek kognitif, tetapi aspek kognitif, psikomotor dan apektif.
Sedangkan, dalam kenyataannya masih banyak proses pembelajaran yang berpusat pada guru, peserta didik hanya duduk manis melihat, mendengarkan, dan mencatat materi pembelajaran. Proses pembelajaran tidak mengembangkan kemampuan, minat, dan bakat peserta didik. Peserta didik hanya menjadi objek dalam proses pembelajaran. Guru hanya berfokus pada aspek kognitif peserta didik. Output dan nilai sebagai patokan evaluasi seorang guru. Guru kurang menyadari bahwa peserta didik memiliki berbagai macam karakter, kecerdasan, kemampuan, minat, bakat, dan motivasi. Guru kurang mengarahkan peserta didik untuk bekerjasama dan berinteraksi dengan peserta didik lain dan lingkungannya. Sehingga, banyak peserta didik yang nilai kognitifnya tinggi, tetapi apektif, psikomotor, serta emosionalnya rendah. Peserta didik kurang dapat berinteraksi dan bekerjasama dengan peserta didik lainnya dan lingkungannya. Peserta didik hanya fokus pada dirinya untuk mencapai hasil belajar yang tinggi.
Upaya yang dilakukan guru dalam mengatasi masalah di atas adalah melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran disini adalah proses pembelajaran yang dapat mengarahkan kecerdasan, minat, bakat, dan motivasi peserta didik pada aspek kognitif, apektif, psikomotor. Guru dalam proses pembelajaran dapat menggunakan model pembelajaran. Banyak model pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan kognitif, apektif, psikomotor, dan emosional peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan guru adalah model pertemuan kelas.
Model pertemuan kelas merupakan salah satu model pembeljaran personal humanistik yang memandang pendidikan yang baik adalah pendidikan yang benar-benar mampu memanusiakan manusia, sesuai dengan harkat derajatnya sebagai manusia yang memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan cara pandang, cita-cita, tujuan dan harapan hidupnya secara personal. Pendidikan harus sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki oleh para peserta didik dan dilaksanakan secara humanis, tidak boleh menjadi beban, terjadi paksaan, dan sejenisnya yang menyebabkan terkekangnya potensi dan minat bakat para peserta didik.

1. Kompoonen Proses dalam Kegiatan Belajar Mengajar
Komponen proses belajar mengajar terdiri atas komponen pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik. Dalam setiap kegiatan belajar mengajar ada hubungan hirarkis antara komponen proses pembelajaran, yaitu komponen pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik. Hubungan proses tersebut dapat dibagankan sebagai berikut :

Bagan diatas menunjukkan bahwa arah panah ke bawah menggambarkan kegiatan semakin operasional atau semakin konkret, sebaliknya semakin ke atas semakin abstrak atau cenderung bersifat teoretik. Semua komponen proses dalam kegiatan belajar mengajar tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

  1. Pendekatan pembelajaran
    Pendekatan pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar dapat dimaknai sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses pembelajaran yang sifatnya masih sangat umum. Pendekatan pembelajaran dapat secara teoretis mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran. Misalnya pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik atau biasa dikenal Student Centered Learning (SCL) atau dikenal dengan SCL approach, metode yang digunakan pasti dipilih yang mengarah agar peserta didik aktif belajar, yang menuntut untuk menggunakan beberapa metode. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), metode yang digunakan tentu tidak cukup dengan ceramah atau tanyajawab, tetapi perlu metode diskusi atau mungkin dengan demonstrasi.
  2. Strategi pembelajaran
    Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien (Senjaya,2008). Seperti pendekatan, strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual, artinya keputusan-keputusan yang diambil untuk melaksanakan pembelajaran masih berupa rencana yang belum dapat dioperasikan secara langsung. Misalnya strategi pembelajaran kelompok, strategi pembelajaran individual, dan strategi pembelajaran induktif, dan strategi pembelajaran deduktif. Dalam implementasinya, strategi masih memerlukan metode-metode pembelajaran. Misalnya strategi pembelajaran kelompok, dalam pelaksanaannya mungkin perlu metode diskusi, metode tugas, dan metode eksperimen.
  3. Metode pembelajaran
    Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran yang sudah direncanakan atau disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran (Sanjaya, 2008). Dalam mengimplementasikan suatu metode, setiap orang bisa berbeda tergantung pada teknikdan gaya masing-masing orang. Misalnya A berceramah ada yang senang tanpa menggunakan pengeras suara, di lain pihak B lebih suka menggunakan pengeras suara mungkin tidak bisa bicara dengan suara keras maka perlu alat bantu seperti speaker atau yang lain.
  4. Teknik pembelajaran
    Teknik pembelajaran adalah cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan mengajar dengan metode diskusi untuk jumlah peserta didik yang sebagian besar aktif berbeda dengan teknik untuk jumlah peserta didik yang sebagian besar kurang aktif. Begitu pula berceramah pada jumlah peserta didik besar berbeda dengan berceramah pada jumlah peserta didik yang kecil. Hal ini menggambarkan bahwa dengan metode yang sama, guru bisa menggunakan teknik yang berbeda-beda tergantung pada kondisi peserta didik, lingkungan, sarana-prasarana, danyang penting lagi adalah tergantung pada kemampuan individu guru sendiri dalam menggunakan teknik pembelajaran tertentu.
  5. Taktik pembelajaran
    Taktik adalah gaya seseorang dalam menggunakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang bersifat individual. Misalnya, dua orang berbeda sama-sama menggunakan metode demonstrasi, penyajiannya bisa dilakukan gaya atau yang berbeda, mungkin yang satu melakukan demonstrasi dengan gaya duduk, sedangkan yang lain dengan gaya berdiri. Contoh yang lain, seseorang menggunakan metode ceramah dengan gaya cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang diamemiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki senseof humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu, bahkan ada yang melakukan dengan membaca catatan atau hand-out. Taktik atau gaya pembelajaran setiap guru tersebut akan dipengaruhi oleh kemampuan, pengalaman, dan tipe kepribadiannya. Dengan demikian, akan tampak bahwa gaya pembelajaran akan menunjukkan keunikan atau kekhasan dari setiap individu, bahkan taktik pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu dan sekaligus sebagai seni atau kiat seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran. Taktik ini biasanya bisa membuat peserta didik menyukai atau semangat belajarnya menjadi meningkat.
    Berdasarkan bagan diatas, dapat ditunjukkan bahwa di dalam model pembelajaran tentu memuat semua komponen proses yang telah dijelaskan, yaitu pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik.

2. Hakikat Model Pembelajaran
1) Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Joyce (1992), menyatakan bahwa:
“Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Selanjutnya Joyce menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarah kepada desain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai”.
Soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000) menyatakan bahwa “Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.”
Bruce Joyce dan Marsha Weil (dalam Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) menyatakan bahwa “Model pembelajaran dibagi kedalam 4 (empat) kelompok, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku”.
2) Hal-hal yang harus Dipertimbangkan dalam Menentukan Model Pembelajaran
Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan model pembelajaran yang akan dilaksanakan, yaitu:

  1. Kesesuaian model pembelajaran dengan kompetensi sikap pada KI-1 dan KI-2 serta kompetensi pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan KD-3 dan/atau KD-4.
  2. Kesesuaian model pembelajaran dengan karakteristik KD-1 (jika ada) dan KD-2 yang dapat mengembangkan kompetensi sikap, dan kesesuaian materi pembelajaran dengan tuntutan KD-3 dan KD-4 untuk memgembangkan kompetensi pengetahuan dan keterampilan.
  3. Penggunaan pendekatan saintifik yang mengembangkan pengalaman belajar peserta didik melalui kegiatan mengamati (observing), menanya (questioning), mencoba/mengumpulkan informasi (experimenting/ collecting information), mengasosiasi/menalar (assosiating), dan mengomunikasikan (communicating).

Beberapa hal yang harus dipertimbangkan guru dalam memilihnya, yaitu:
a. Pertimbangan terhadap tujuan yang hendak dicapai. Pertanyaan – pertanyaan yang dapat diajukan adalah:

  • Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenaan dengan kompetensi akademik, keperibadian, sosial dan kompetensi vokasional atau yang dulu diistilahkan dengan domain kognitif, afektif atau psikomotor?
  • Bagaimana kompleksitas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai?
  • Apakah untuk mencapai tujuan itu memerlukan keterampilan akademik?

b. Pertimbangan yang berhubungan dengan bahasa atau materi membelajaran:

  • Apakah materi pembelajaran itu berupa fakta, konsep, hukum atau teori tertentu?
  • Apakah untuk mempelajari materi pembelajaran itu memerlukan prasyarat atau tidak?
  • Apakah tersedia bahan utuk sumber-sumber yang relevan untuk mempelajari materi itu?

c. Pertimbangan dari sudut peserta didik atau peserta didik

  • Apakah model pembelajaran sesuai dengan tingkat kematangan peserta didik?
  • Apakah model pembelajaran itu sesuai dengan minat, bakat, dan kondisi peserta didik?
  • Apakah model pembelajaran itu sesuai dengan gaya belajar peserta didik?

d. Pertimbangan lainnya yang bersifat non teknis

  • Apakah untuk mencapai tujuan hanya cukup dengan satu model saja?
  • Apakah model pembelajaran yang kita tetapkan dianggap satu-satunya model yang dapat digunakan ?
  • Apakah model pembelajaran itu memiliki nilai evektifitas atau efisien?

3. Model Personal-Humanistik
1) Teori Belajar Humanistik
Teori belajar humanistik adalah teori belajar yang memiliki tujuan untuk memanusiakan manusia. Sukardjo dan Komarudin, (2009: 56), menyatakan bahwa:
“Teori belajar humanistik pada dasarnya memiliki tujuan belajar untuk memanusiakan manusia. Oleh karena itu proses belajar dapat dianggap berhasil apabila si pembelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Artinya peserta didik mengalami perubahan dan mampu memecahkan permasalahan hidup dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.Dengan kata lain, si pembelajar dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya”.
M. Dalyono (2012 : 43), menyatakan bahwa “Tujuan utama para pendidik adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka”.
Para teoritikus humanistik, seperti Carls Rogers (1902-1987) dan Abraham Maslow (1908-1970) menyakini bahwa tingkah laku manusia tidak dapat dijelaskan sebagai hasil dari konflik-konflik yang tidak disadari maupun sebagai hasil pengkondisian (conditioning) yang sederhana.Teori ini menyiratkan penolakan terhadap pendapat bahwa tingkah laku manusia semata-mata ditentukan oleh faktor diluar dirinya. Sebaliknya, teori ini melihat manusia sebagai aktor dalam drama kehidupan, bukan reaktor terhadap instink atau tekanan lingkungan. Desmita (2009: 44) menyatakan bahwa “Teori ini berfokus pada pentingnya pengalaman disadari yang bersifat subjektif dan self-direction”.
Awal timbulnya psikologi humanistis terjadi pada akhir tahun 1940-an yaitu munculnya suatu perspektif psikologi baru. Orang-orang yang terlibat dalam penerapan psikologilah yang berjasa dalam pengembangan ini. Misalnya; ahli-ahli psikologi klinik, pekerja-pekerja sosial, konselor, bukan merupakan hasil penelitian dalam bidang proses belajar. Gerakan ini berkembang dan kemudian dikenalkan dengan psikologi humanistis, eksternal, perseptual atau fenomenologikal. Psikologi ini berusaha memahami perilaku seseorang dari sudut perilaku (behavior), bukan dari pengamat observer. Dalam dunia pendidikan aliran humanisme muncul pada tahun 1960 sampai dengan 1970-an dan mungkin perubahan-perubahan dan inovasi yang terjadi selama dua dekade yang terakhir pada abad ke-20 ini pun juga akan menuju pada arah ini (Herpratiwi, 2009: 37).
Herpratiwi, (2009: 37), menyatakan bahwa:
“Perhatian psikologi humanistik terutama tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Menurut para pendidik aliran humanistis, penyusunan dan penyajian materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian peserta didik. Gerakan munculnya psikologi humanistik disebabkan oleh semacam kesadaran bersama beranggapan bahwa pada dasarnya tidak ada teori psikologi yang berkemampuan menjelaskan manusia sebagai suatu totalitas dan yang sewajarnya mengfungsikan manusia. Mereka meyakini bahwa tiap individu pada dasarnya mempunyai kapasitas serta dorongan sendiri untuk mengembangkan potensi kemanusiaannya”.
Herpratiwi (2009: 37) menyatakan bahwa “Menurut aliran humanistik, para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikulum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini. Beberapa psikolog humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk berkembang untuk menjadi lebih baik dan juga belajar “.
Herpratiwi (2009: 38) menyatakan bahwa:
“Teori humanisme berfokus pada sikap dari kondisi manusia yang mencakup kesanggupan untuk menyadari diri, bebas memilih untuk menentukan nasib sendiri, kebebasan dan bertanggung jawab, kecemasan sebagai suatu unsur dasar pencarian. Perkembangan pribadi yang muncul berdasarkan keunikan masing-masing individu. Teori ini berfokus pada saat sekarang dan menjadi apa seorang itu dimasa depan. Pendekatan ini menyajikan kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan perkembangan. Menghapus penghambat aktualisasi potensi pribadi. Membantu peserta didik menemukan dan menggunakan kebebasan memilih dengan memperluas kesadaran diri dan bertanggung jawab atas arah kehidupanya sendiri”.
Uno (2006: 13), menyatakan bahwa “Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya”.
Sukardjo dan Komarudin, (2009: 57), menyatakan bahwa:
“Konsep pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Keterampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik”.
Keleluasaan untuk memilih apa yang akan dipelajari dan kapan serta bagaimana mereka akan mempelajarinya merupakan ciri utama pendekatan humanisme. Bertujuan untuk membantu peserta didik menjadi self-directed serta self-motivated leaner. Penganut paham ini yakin bahwa peserta didik akan bersedia melakukan banyak hal apabila mereka memiliki motivasi yang tinggi dan mereka diberi kesempatan untuk menentukan apa yang mereka inginkan. Pengertian humanisme yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan mengundang berbagai macam arti pula. Kata humanisme dalam pendidikan, dalam artikel “what is humanistic education?”, Krischenbaum menyatakan bahwa sekolah, kelas, atau guru dapat dikatakan bersifat humanistik dalam pendidikan. Ide mengenai pendekatan-pendekatan ini terangkum dalam psikologi humanisme (Herpratiwi, 2009: 38).
2) Konsep Model Personal-Humanistik
Pembelajaran secara personal adalah kegiatan mengajar guru yang menitik beratkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu. Bantuan dan bimbingan belajar kepada individu juga ditemukan pada pembelajaran klasikal, tetapi prinsipnya berbeda. Pada pembelajaran personal, guru memberi bantuan kepada masing-masing pribadi. Sedangkan, pada pembelajaran klasikal, guru member bantuan secara umum.
Pendekatan model personal bertitik tolak dari teori humanistik yaitu berorientasi terhadap pengembangan konsep diri individu. Hal ini meliputi pengembangan proses individu dan membangun serta mengorganisasikan dirinya sendiri. Dengan kata lain, model personal-humanistik bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik agar dapat memahami keberadaan dirinya sendiri secara baik, bertanggung jawab, dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang leboh baik. Jadi, model personal-humanistik lebih menekankan pada kesadaran pribadi dalam proses pembelajaran. Perhatian utamanya pada emosional peserta didik untuk mengembangkan hubungan yang produktif dengan orang lain dan lingkungannya. Model personal-humanistik menjadikan pribadi peserta didik yang mampu membentuk hubungan yang harmonis serta mampu memproses informasi secara efektif.
Model personal-humanistik bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap dan analisis terhadap fenomena sosial. Herpratiwi (2009: 39), menyatakan bahwa “Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah peserta didik merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi pola perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri”.
Model personal-humanistik juga berorientasi pada individu dan perkembangan keakuan. Guru dalam model personal-humanistik harus berupaya menciptakan kondisi kelas yang kondusif, agar peserta didik merasa bebas dalam belajar dan mengembangkan dirinya, baik emosional maupun intelektual. Guru berperan sebagai pendorong, bukan menahan sensitifitas peserta didik terhadap perasaannya.
Soemantrie (Abdullah: 160-161) menyatakan bahwa:
”Pandangan humanistik kurikulum berpusat pada peserta didik dan mengutamakan perkembangan afektif peserta didik sebagai prasyarat dan sebagai bagian integral dari proses belajar. Para pendidik humasnistik yakin, bahwa kesejahteraan mental dan emosional peserta didik harus dipandang sentral dalam kurikulum, agar belajar itu memberi hasil maksimal. Prioritasnya adalah pengalaman belajar yang diarahkan pada tanggapan minat, kebutuhan dan kemampuan anak”.
Pendekatan pembelajaran personal-humanistik memandang manusia sebagai subyek yang bebas merdeka untuk menentukan arah hidupnya. Manusia bertanggungjawab penuh atas hidupnya sendiri dan juga atas hidup orang lain. Pendekatan yang lebih tepat digunakan dalam pembelajaran personal humanistik adalah pendekatan dialogis, reflektif, dan ekspresif. Pendekatan dialogis mengajak peserta didik untuk berpikir bersama secara kritis dan kreatif. Pendidik tidak bertindak sebagai guru melainkan fasilitator dan partner dialog. Pendekatan reflektif mengajak peserta didik untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Sedangkan, pendekatan ekspresif mengajak peserta didik untuk mengekspresikan diri dengan segala potensinya (realisasi dan aktulisasi diri). Dengan demikian, pendidik tidak mengambil alih tangungjawab, melainkan sekedar membantu dan mendampingi peserta didik dalam proses perkembangan diri, penentuan sikap dan pemilahan nilai-nilai yang akan diperjuangkannya.
Pendidikan yang personal-humanistik menekankan bahwa pendidikan pertama-tama dan yang utama adalah bagaimana menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadi-pribadi dan antar pribadi dan kelompok di dalam komunitas sekolah. Pendidikan yang efektif adalah yang berpusat pada peserta didik atau pendidikan bagi peserta didik. Dasar pendidikannya adalah apa yang menjadi “dunia”, minat, dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik. Pendidik membantu peserta didik untuk menemukan, mengembangkan dan mencoba mempraktikkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki (the learners-centered teaching). Ciri utama pendidikan yang berpusat pada peserta didik adalah bahwa pendidik menghormati, menghargai dan menerima peserta didik sebagaimana adanya. Komunikasi dan relasi yang efektif sangat diperlukan dalam model pendidikan yang berpusat pada peserta didik, sebab hanya dalam suasana relasi dan komunikasi yang efektif, peserta didik akan dapat mengeksplorasi dirinya, mengembangkan dirinya dan kemudian memfungsikan dirinya di dalam masyarakat secara optimal.
Tujuan sejati dari pendidikan seharusnya adalah pertumbuhan dan perkembangan diri peserta didik secara utuh sehingga mereka menjadi pribadi dewasa yang matang dan mapan, mampu menghadapi berbagai masalah dan konflik dalam kehidupan sehari-hari. Agar tujuan ini dapat tercapai maka diperlukan sistem pembelajaran dan pendidikan yang humanistik serta mengembangkan cara berpikir aktif-positif dan keterampilan yang memadai (income generating skills). Pendidikan dan pembelajaran yang bersifat aktif-positif dan berdasarkan pada minat dan kebutuhan peserta didik sangat penting untuk memperoleh kemajuan baik dalam bidang intelektual, emosi/perasaan (EQ), afeksi maupun keterampilan yang berguna untuk hidup praktis. Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia muda (N. Driyarkara). Pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih bermanusiawi (semakin “penuh” sebagai manusia), berguna dan berpengaruh di dalam masyarakatnya, yang bertanggungjawab dan bersifat proaktif dan kooperatif. Masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi yang handal dalam bidang akademis, keterampilan atau keahlian dan sekaligus memiliki watak atau keutamaan yang luhur. Singkatnya pribadi yang cerdas, berkeahlian, namun tetap humanis.
3) Nilai-Nilai yang Ditumbuhkembangkan dalam Proses Pembelajaran Personal-Humanistik
Herpratiwi (2009: 41), menyatakan bahwa nilai-nilai yang ditumbuhkembangkan dalam proses pembelajaran personal-humanistik, yaitu:

  1. Kejujuran, seperti tidak menyontek, tidak merusak, dan bisa dipercaya.
  2. Menghargai hak orang lain, seperti menerima dan menghormati perbedaan individu yang ada, mau mendengarkan orang lain, menolong orang lain, dan bisa berempati terhadap problem orang lain.
  3. Menjaga lingkungan, seperti menghemat penggunaan listrik, gas, kayu, logam, kertas, dan menjaga barang milik sendiri ataupun milik orang lain.
  4. Perilaku mau berbagi, menolong orang lain, ramah terhadap orang lain, dan berlaku pantas didepan publik.
  5. Perkembangan pribadi, seperti menjalankan tanggung jawab, menghargai kesehatan dan kebersihan fisik, mengembangkan bakat yang dimiliki secara optimal, mengembangkan rasa hormat dan rasa bangga terhadap diri sendiri, mengontrol perilaku, memiliki sikap berani, terhormat dan patriotik, serta menghargai keindahan.

4) Aspek-Aspek Kemanusiaan Pembelajaran Personal Humanistik
Manusia adalah makhluk multidimensional yang dapat ditelaah dari berbagai sudut pandang. Eduart Spranger (1950), menyatakan bahwa “Manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani”. Hal yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah aspek kerohaniannya.Manusia akan menjadi sungguh-sungguh manusia kalau ia mengembangkan nilai-nilai rohani (nilai-nilai budaya), yang meliputi: nilai pengetahuan, keagamaan, kesenian, ekonomi, kemasyarakatan dan politik.
Howard Gardner (1983) “Menelaah manusia dari sudut kehidupan mentalnya khususnya aktivitas inteligensia (kecerdasan). Menurutnya, manusia memiliki 7 macam kecerdasan”. Kecerdasan-kecerdasan tersebut, yaitu:

  1. Kecerdasan matematis/logis, yaitu kemampuan penalaran ilmiah, penalaran induktif/deduktif, berhitung/angka dan pola-pola abstrak.
  2. Kecerdasan verbal/bahasa, yaitu kemampuan yang berhubungan dengan kata/bahasa tertulis maupun lisan (sebagian materi pelajaran di sekolah berhubungan dengan kecerdasan ini).
  3. Kecerdasan interpersonal, yaitu kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan berelasi dengan orang lain, berkomunikasi antar pribadi.
  4. Kecerdasan fisik/gerak/badan, yaitu kemampuan mengatur gerakan badan, memahami sesuatu berdasar gerakan.
  5. Kecerdasan musikal/ritme, yaitu kemampuan penalaran berdasarkan pola nada atau ritme. Kepekaan akan suatu nada atau ritme.
  6. Kecerdasan visual/ruang/spasial, yaitu kemampuan yang mengandalkan penglihatan dan kemampuan membayangkan obyek. Kemampuan menciptakan gambaran mental.
  7. Kecerdasan intrapersonal, yaitu kemampuan yang berhubungan dengan kesadaran kebatinannya seperti refleksi diri, kesadaran akan hal-hal rohani.

Kecerdasan inter dan intra personal ini selanjutnya oleh Daniel Goleman (1995) disebut dengan kecerdasan emosional. Ternyata pula bahwa sebagian besar kegiatan kecerdasan logis matematis dan kecerdasan verbal bahasa dilakukan dibelahan otak kiri. Sedangkan, kegiatan kecerdasan lainnya dilakukan pada otak kanan (intra personal, interpersonal, visual-ruang, gerak-badan, dan musik-ritme). Betapa pentingnya dalam dunia pendidikan kita mengusahakan proses pembelajaran dan pendidikan yang mengembangkan aktivitas baik otak kanan maupun otak kiri yang mengembangkan semua aspek kemanusiaan perseorangan.
Ki Hajar Dewantara, pendidik asli Indonesia, melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologiknya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa, yaitu cipta, karsa, dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Dan ternyata pendidikan sampai sekarang ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi. Dari titik pandang sosio-anthropologis, kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah bahwa manusia itu berbudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Maka salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayaannya. Persoalannya budaya dalam masyarakat itu berbeda-beda. Dalam masalah kebudayaan berlaku pepatah: ”Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.” Manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau ia hidup dalam budayanya sendiri. Manusia yang seutuhnya antara lain dimengerti sebagai manusia itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang melingkupinya.
5) Implikasi Teori Model Personal-Humanistik dalam Pendidikan
Penerapan teori model personal-humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Hal yang menjadi Ilmu pengetahuan merupakan pengalaman. Pengalaman yang dimaksud dalam hal ini adalah serangkaian proses pembelajaran yang didalamnya terdapat nilai-nilai humanisme dan telah dilalui oleh peserta didik. Adapun peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para peserta didik, saat guru memberikan motivasi dan kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan peserta didik. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada peserta didik dan mendampingi peserta didik untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini ialah peserta didik merasa senang, bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Peserta didik diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin, atau etika yang berlaku (Sukardjo dan Komarudin, 2009: 65).
Rusman (2014) menyatakan bahwa implikasi teori model personal-humanistik dalam pendidikan adalah sebagai berikut.

  1. Bertingkal laku dan belajar adalah hasil pengamatan
  2. Tingkah laku yang ada, dapat dilaksanakan sekarang (learning to do)
  3. Semua individu memiliki dorongan dasar terhadap aktualisasi diri
  4. Sebagian besar tingkah laku individu adalah hasil dari konsepsinya sendiri bukan dari pengaruh orang lain (guru)
  5. Guru mengajar adalah bukan hal penting, tapi belajar peserta didik adalah sangat penting (learn how to learn)
  6. Mengajar adalah membantu individu untuk mengembangkan suatu hubungan yang produktif dengan lingkungannya dan memandang dirinya sebagai pribadi yang cakap

6) Tujuan Model personal-humanistik
Syaharudin (2012: 1) menyatakan bahwa tujuan model personal-humanistik adalah sebagai berikut.

  1. Menuntun peserta didik untuk memiliki kekuatan mental yang lebih baik dan kesehatan emosi yang lebih memadai dengan cara mengembangkan kepercayaan diri dan perasaan realistis serta menumbuhkan empati pada orang lain.
  2. Meningkatkan proporsi pendidikan yang berasal dari kebutuhan dan aspirasi peserta didik sendiri, melibatkan semua peserta didik dalam proses menentukkan apa yang akan dikerjakannya atau bagaimana cara ia mempelajarinya.
  3. Mengembangkan jenis-jenis pemikiran kualitatif tertentu, seperti kreativitas dan ekspresi pribadi.

7) Prinsip dan Karakteristik Umum Model Personal-Humanistik
Beberapa prinsip dan karakteristik umum model pembelajara personal humanistik, yaitu:

  1. Pembelajaran berpusat kepada peserta didik (student centered). Peserta didik diberikan kebebasan berkreativitas mencapai tujuan pembelajarannya. Bahkan dalam teori model pembelajaran humanis murni tujuanpembelajaran tidak dinyatakan dan disamakan. Semua peserta didik diberikan kebebasan menentukan tujuan yang diinginkannya.
  2. Pembelajaran berfokus pada pengembangan mental belajar dan penajaman kreativitas peserta didik. Mental belajar berupa kesadaran diri, konsep diri, pemahaman diri tentang segala potensinya dan memahami cara mengembangkannya sesuai dengan gaya belajar yang disukainya.
  3. Kegiatan pembelajaran harus dikemas secara fleksibel, menarik dan tidak membosankan. Kegiatan pembelajaran dilakukan sepenuh hati. Karena tidak ada paksaan dan tidak ada standar baku yang disamakankepada semua peserta didik. Sehingga, masing-masing peserta didik akan menampilkan performanya masing-masing.
  4. Guru berperan sebagai fasilitator dan pengarah proses belajar peserta didik.
  5. Peserta didik diberikan kebebasan dalam menentukan cara, metode, strategi bahkan bahan ajar dan lingkungan belajarnya sesuai dengan keinginandan gaya belajarnya masing-masing yang penting tujuan umum pembelajaran tercapai.
  6. Proses penilaian berfokus pada produktivitas karya kreatif peserta didik. Sesuai dengan minat dan bakat serta potensi yang dikembangkannya. Proses evaluasi tidak mengenal standar yang disamakan antara semua peserta didik sebagaimana proses evaluasi dalam teori pembelajaran berhavioristik.

8. Rumpun Model Personal-Humanistik
Rumpun model personal-humanistik, yaitu pengajaran non-directif, latihan kesadaran, sintetik, sistem-sistem sosial, dan pertemuan kelas. Rumpun model pembelajaran personal-humanistik disajikan pada tabel dibawah ini.

9) Kelebihan dan Kelemahan Model Personal-Humanistik
Kelebihan model personal-humanistik, yaitu:

  1. Pembelajaran dengan teori ini sangat cocok diterapkan untuk materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial.
  2. Peserta didik merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
  3. Peserta didik diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara tanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang-orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin, atau etika yang berlaku (Herpratiwi, 2009: 56).

Sedangkan, kelemahan model personal-humanistik, yaitu:

  1. Karena dalam teori ini guru ialah sebagai fasilitator, maka kurang cocok menerapkan bagi peserta didik yang pola pikirnya kurang aktif atau pasif. Karena bagi peserta didik yang kurang aktif, dia akan takut atau malu untuk bertanya pada gurunya sehingga dia akan tertinggal oleh teman-temannya yang aktif dalam kegiatan pembelajaran, padahal dalam teori ini guru akan memberikan respons bila murid yang diajar juga aktif dalam menanggapi respons yang diberikan oleh guru.
  2. Karena peserta didik berperan sebagai pelaku utama (student center) maka keberhasilan proses belajar lebih banyak ditentukan oleh peserta didik itu sendiri, peran guru dalam proses pembentukan dan pendewasaan kepribadian peserta didik menjadi berkurang (Hepratiwi, 2009: 56).

4. Model Pertemuan Kelas
1) Konsep Model Pertemuan Kelas
Model pertemuan kelas dikembangkan dengan maksud untuk mengembangkan kepedulian kelompok sosial, disiplin diri dan komitmen prilaku. Pertemuan dilakukan oleh guru dan peserta didik dalam suasana yang menyenangkan dan tidak terbatas, tidak terikat dengan berbagai diskusi masalah-masalah perilaku, masalah pribadi dan akademik atau berbagai isu kurikulum.
Model pertemuan kelas berasal dari teori psikoterapi yang dikembangkan oleh William Glasser yaitu terapi realitas (reality teraphy). Banyak ahli yang berpendapat, misalnya Albert Ellis, Thomas A. Harris, Brammer, yang memandang bahwa dalam proses psikoterapi terjadi proses mengajar. William Glasser nampak berpandangan seperti itu juga. Pandangan Glasser tentang hal tersebut diungkapkan oleh Corey (1977, h. 157) bahwa terapi realitas merupakan suatu sistem yang memusatkan perhatiannya pada prilaku masa kini, dan terapis berfungsi sebagai guru dan model yang mempertentangkan klien dengan menggunakan cara-cara yang dapat membantu klien menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan dasarnya tanpa merugikan dirinya dan orang lain.
Menurut istilah sikun pribadi kondisi pisiko-higieni merupakan salah satu aspek tujuan umum pendidikan. Apabila proses belajar dipandang sebagai suatu strategi fundamental untuk mencapai suatu tujuan pendidikan, maka proses dan kegiatan mengajar harus memperhatikan prinsif-prinsif kesehatan mental. Ini berarti bahwa mengajar mempunyai fungsi terapeutik (penyembuhan), perfentif (pencegahan), dan presertatif (memelihara), dan tidak semata-mata berfuungsi informatif. Model pertemuan kelas merupakn model yang peduli terhadap fungsi-fungsi tersebut. Ini terbukti dari apa yang diungkapkan Joyce dan Weil (1980, h. 216) bahwa model mengajar ini pada dasarnya merupakan model nurturnt (memelihara), yakni memelihara kondisi kesehatan mental peserta didik yang akan mendorong tumbuhnya perkembangan akademis.
Model pertemuan kelas (classroom meeting model) dikembangkan berdasarkan hasil kerja William Glasser (Joyce & Weil, 2004). Glasser menyatakan bahwa hampir semua masalah manusia adalah kegagalan dari fungsi sosial yang didasarkan pada keyakinannya bahwa setiap manusia mempunyai dua kebutuhan dasar, yaitu cinta (love) dan harga diri (self-worth). Individu mempunyai masalah karena dia telah gagal untuk memuaskan kebutuhan dasarnya untuk cinta dan harga diri. Kedua kebutuhan ini berakar pada hubungan antar manusia sesuai dengan norma kehidupan kelompok. Di dalam kelas, rasa cinta tercermin dalam bentuk tanggung jawab sosial untuk saling membantu dan saling memperhatikan satu sama lainnya. Diyakini bahwa sekolah telah gagal bukan di dalam menampilkan profil akademis, tetapi di dalam memperkuat hubungan yang penuh kehangatan, konstruktif, untuk mencapai keberhasilan. Rasa dicintai dan mencintai bagi sebagian besar manusia akan melahirkan rasa memiliki harga diri. Oleh karena itu, terapi atau bantuan harus disambungkan melalui suatu medium sosial seperti melalui kelompok. Glasser menerapkan prinsip-prinsip itu melalui mekanisme pertemuan kelas (classroom meeting), pada periode waktu 30 sampai 45 menit ketika pebelajar dan pembelajar berada dalam kegiatan belajar mengajar (pembelajaran berlangsung), untuk terlibat dalam berpikir atau berpandangan secara terbuka, tidak menghakimi diskusi tentang masalah (pribadi, perilaku, atau akademik) yang menjadi kepedulian mereka dalam upaya untuk mencari solusi secara bersama.
Menurut Aunurrahman (2013: 167) Glasser mengadopsi model konseling untuk merangcang model ini dengan maksud membantu para pelajar memikul tanggungjawab atas perilakunya dan tanggungjawab untuk lingkungan sosialnya, sehingga dapat digunakan dalam lingkungan kelas. Didalam kelas, model ini diwujudkan seperti layaknya rapat atau pertemuan dimana kelompok bertanggungjawab untuk membangun sistem sosial yang sesuai untuk melaksanakan tugas-tugas akademis dengan mempertimbangkan unsur perbedaan perseorangan dengan tetap menghargai tugas-tugas bersama dan hak-hak orang lain.
Guru dalam model pertemuan kelas memegang peranan penting sekalipun inisiatif peserta didik ditonjolkan dan mendapat tempat yang khusus. Didalam model ini kiranya sikap dan prerlakuan guru terhadap peserta didik merupakan kunci keberhasilan proses belajar mengajar. Dalam kondisi seperti ini guru harus mampu memperlebar pola respon dengan menghindarkan sikap judgemental terhadap gagasan-gagasan peserta didik. Dengan kata lain, guru harus dapat melakukan pacing (Richardson dan Margulis, 1081) atau mampu mengembangkan keterampilan hubungan dan transaksi antar pribadi.
2) Bentuk-Bentuk Model Pertemuan Kelas
Aunurrahman (2013: 167) menyatakan beberapa bentuk model pertemuan kelas, yaitu:

  1. Pertemuan untuk memecahkan masalah sosial. Dalam kegiatan ini biasanya para peserta didik mencoba membagi tanggungjawab, belajar, serta bertindak dengan cara memecahkan masalah mereka didalam kelas
  2. Pertemuan yang tidak hanya terbatas bagi para peserta didik, dimana didalamnya para peserta terlibat didalam mendiskusikan berbagai masalah kehidupan sosial.
  3. Pertemuan sebagaimana bentuk pertama dan kedua, namun para peserta didik terikat untuk membahas sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal yang sedang dipelajari di dalam kelas.

3) Sintak Model Pertemuan Kelas
Pembelajaran model pertemuan kelas memiliki enam tahap pelaksanaan, yaitu:
a. Menciptakan suasana kelas yang kondusif
b. Menyampaikan pemasalan diskusi
c. Membuat penilaian pribadi
d. Mengidentifikasi alternatif tindakan solusi
e. Membuat komitmen
f. Merencanakan tindak lanjut tindakan
Model pertemuan kelas dalam pelaksanaannya menurut Joyce dan Weil (1986) memiliki sintakmatik dengan enam tahap kegiatan pembelajaran, yaitu:
a. Tahap pertama: membangun iklim keterlibatan

  • Mendorong peserta didik untuk berpartisipasi dan berbicara
  • Berbagai pendapat tanpa saling menyalahkan atau menilai

b. Tahap kedua: menyajikan masalah untuk didiskusikan

  • Peserta didik dan guru membawa isu atau masalah
  • Memaparkan masalah secara utuh
  • Mengidentifikasi akibat yang mungkin timbul
  • Mengidentifikasi norma sosial

c. Tahap ketiga: membuat keputusan nilai personal

  • Mengidentifikasi nilai yang ada di balik masalah prilakudan norma sosial
  • Peserta didik membuat kajian personal tentang norma yang harus diikuti

d. Tahap keempat: mengidentifikasi pilihan tindakan

  • Peserta didik mendiskusikan berbagai pilihan atau alterbatif prilaku
  • Peserta didik bersepakat tentang pilihan yang ditentukannya itu

e. Tahap Kelima:membuat komentar
Peserta didik membuat komentar atau tanggapan secara umum tentang prilaku pilihan

f. Tahap Keenam: tindak lanjut prilaku
Peserta didik menguji efektifitas dari komitmen dan prilaku bari itu, setelah periode tertentu
Untuk kepentingan praktis pembelajaran di kelas, model ini dapat diadaptasi dalam bentuk kerangka operasional pembelajaran pada tabel di bawah ini.

Menyimak tabel tersebut, tergambar secara jelas bagaimana kegiatan guru dan kegiataan peserta didik dalam proses pembelajaran. Serta terlihat juga urutan pencapaian suatu pemahaman sebuah nilai dari perilaku untuk disepakati dan dilakukan dalam kehidupan sosial di kelasnya melalui pembelajaran yang dilakukan. Serta belajar bagaimana melakukan dan mentaati komitmen yang telah disepakati tersebut.
4) Aspek-Aspek yang Perlu Dikembangkan dalam Model Pertemuan Kelas
Gordon dan Burch (1974, h.24) mengemukakan aspek-aspek yang perlu dikembangkan didalam situsai hubungan guru dengan peserta didik ataupun peserta didik dengan peserta didik lain untuk mencapai kondisi mental sehat dalam model pertemuan kelas. Aspek-aspek tersebut, yaitu:

  • Keterbukaan, yaitu keadaan yang memungkinkan peserta didik bersikap terus terang dan jujur terhadap yang lainnya
  • Sikap memelihara, yaitu sikap saling menghargai satu sama lain
  • Rasa saling bergantung
  • Separateness, yaitu yang memungkinkan setiap pribadi mengembangkan keunikan, kreativitas dan individualitasnya
  • Saling memenuhi kebutuhan, yaitu mengembangkan kesadaran bahwa tidak ada kebutuhan yang terpenuhi dengan mengorbankan kebutuhan orang lain.

5) Prinsip Reaksi Model Pertemuan Kelas
Perilaku guru di dalam model pertemuan kelas dipandu oleh tiga tahap, yaitu:

  • Prinsip keterlibatan
    Guru melibatkan peserta didik dengan menumbuhkan suasana yang hangat, personal, menarik, dan hubungan yang peka dengan peserta didik.
  • Prinsip tidak judgamental (menentukan)
    Guru tidak menentukan dan mendorong peserta didik untuk mengambil tanggung jawab mengdiagnosis perilakunya sendiri dan menolak perilakunya sendiri dan menolak perilaku yang tidak bisa dipertanggungjawabkan tetapi guru harus menerima tanggung jawab untuk mendiagnosis prilaku belajar.
  • Keterlibatan kelompok
    Kelas sebagai satu kesatuan memilih dan mengikuti alternatif prilaku yang ada.

6) Sistem Pendukung Model Pertemuan Kelas
Pendukung optimal bagi model pertemuan kelas ialah guru yang memiliki kehangatan pribadi dan di dalam melakukan hubungan antar pribadi. Guru mampu menciptakan iklim terbuka dan tidak difensif dan mengendalikan kelompok untuk menilai perilaku, mengambil kesepakatan dan melakukan tindak lanjut untuk menilai efektifitas perilaku baru.

7) Dampak Penggunaan Model Pertemuan Kelas
Penggunaan modelpertemuan kelas menurut Joyce dan Weil (1986) akan menghasilkan dampak instruksional dan dampak pengiring yang di gambarkan seperti bagan di bawah ini. Dengan kata lain, penggunaan model pertemuan kelas ini diarahkan untuk mencapai direct dan indirect effects seperti terlihat pada gambar diagram.

Berdasarkan gambar tersebut, model pertemuan kelas akan berdampak instruksional, yakni mencapai tujuan dan evaluasi serta membentuk kemandirian dan pengarahan diri. Sedangkan, dalam pembelajaran tersebut akan dicapai juga dampak pengiring, yakni peserta didik akan menyadari dan menampakkan sikap keterbukaan dan mendahulukan keutuhan kelas.
8) Aplikasi Model Pertemuan Kelas
Contoh penerapan model pertemuan kelas dengan masalah “ Perilaku Membolos”.
1. Tahap pertama : membangun iklim keterlibatan

  1. Mendorong peserta didik untuk berpartisipasi dan berbicara untuk dirinya sendiri.
    Konselor atau guru pembimbing menciptakan suasana kelas yang hangat dan kondusif, sehingga model pembelajaran pertemuan kelas dapat hidup. Sebelum dimulai, konselor membacakan aturan maupun tahapan dalam metode ini. Fokus dari metode pertemuan kelas adalah keterlibatan seluruh peserta didik secara aktif. Jika ada peserta didik yang pasif maka konselor perlu mencatat dan membangkitkan motivasi peserta didik tersebut agar ikut terlibat dalam kegiatan kelas secara aktif. Peserta didik dilatih untuk mengemukakan pendapat dan saling menghargai perbedaan pendapat tanpa saling menyalahkan.
  2. Berbagi pendapat tanpa saling menyalahkan atau menilai
    Setelah konselor berusaha menciptakan suasana kelas yang hangat dan kondus, serta menggugah motivasi peserta didik untuk perpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Tugas konselor selanjutnya adalah memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya tanpa saling menyalahkan atau menjatuhkan satu sama lain.

2. Tahap kedua : menyajikan masalah untuk didiskusikan

  1. Peserta didik dan atau pengajar membawa isu atau masalah
    Konselor menyajikan masalah, yaitu membolos. Setiap peserta didik harus mengetahui dan memahami tentang permasalahan tersebut.
  2. Memaparkan masalah secara utuh
    Selanjutnya masalah membolos yang sudah di angkat dalam forum kelas itu dipaparkan dan dikaji secara utuh. Setiap peserta didik mengupas permasalahan tersebut secara tuntas. Melihat dari keragaman karakteristik dan kemampuan menangkap informasi atau ilmu pengetahuan maka pemahaman terhadap masalah membolos pun juga menumbuhkan banyak sudut pandang dan memunculkan keragaman pendapat. Tugas konselor tetap pada memfasilitasi dan mengatur jalannya diskusi.
  3. Mengidentifikasi akibat yang mungkin timbul
    Diskusi yang terjadi di dalam kelas pada tahap ini membahas mengenai identifikasi akibat yang mungkin timbul dari mombolos. Setiap peserta didik mempunyai pemikiran masing-masing tentang akibat yang ditimbulkan dari membolos. Dari banyaknya pemikiran peserta didik ini menimbulkan keragaman pendapat akibat membolos.
  4. Mengidentifikasi norma sosial
    Hasil pemikiran dari masing-masing peserta didik mengenai akibat membolos selanjutnya diidentifikasi kesesuaiannya berdasarkan norma sosial yang berlaku di masyarakat. Sehingga diperoleh jawaban yang dominan, yaitu jawaban mengenai akibat membolos yang sesuai dengan norma sosial.

3. Tahap ketiga : membuat keputusan nilai personal

  1. Mengidentifikasi nilai yang ada di balik masalah perilaku dan norma sosial
    Setelah menemukan identifikasi akibat membolos yang sesuai dengan norma, kemudian diskusi selanjutnya adalah mengidentifikasi nilai-nilai sosial yang terkandung akibat membolos.
  2. Peserta didik membuat kajian personal tentang norma yang harus diikuti sesuai dengan nilai yang dimiliki.
    Tahap ini peserta didik mengkaji perilaku membolos, artinya peserta didik mengkaji perilaku yang sesuai dan tidak menurut norma yang berlaku di masyarakat.

4. Tahap keempat : mengidentifikasi pilihan tindakan

  1. Peserta didik mendiskusikan berbagai pilihan atau alternatif perilaku
    Peserta didik mendiskusikan berbagai pilihan alternatif untuk mengatasi perilaku membolos.
  2. Peserta didik besepakat tentang pilihannya itu
    Berbagai pilihan atau alternatif untuk mengatasi perilaku membolos telah di dapat, kemudian dipilih mana yang paling tepat. Pemilihan alternatif cara mengatasi membolos ini dipilih melalui kesepakatan seluruh peserta diskusi (peserta didik).

5. Tahap kelima : membuat komentar

Peserta didik membuat komentar secara umum
Setelah peserta didik sepakat memilih beberapa alternatif cara mengatasi membolos, selanjutnya adalah membuat komentar secara umum.

6. Tahap keenam : tindak lanjut perilaku
Setelah periode tertentu, peserta didik menguji efektifitas dari komitmen dan perilaku baru itu. Komentar dari para peserta didik kemudian ditindak lanjuti untuk dilakukan uji efektifitas dan menemukan cara mengatasi membolos sebagai perubahan perilaku yang efektif.
9. Kelebihan dan Kekurangan Model Pertemuan Kelas

Kelebihan model pertemuan kelas, yaitu:

  1. Dapat mengetahui karakteristik masing-masing peserta didik
  2. Dapat membuat peserta didik senang karena bisa berkumpul dengan teman-teman yang belum dan yang sudah mereka kenal
  3. Peserta didik dapat menanyakan secara langsung jika ada yang tidak dimengerti kepada guru
  4. Dapat memecahkan masalah secara langsung

Kekurangan model pertemuan kelas, yaitu:

    1. Membutuhkan tenaga yang lebih banyak
    2. Terkadang ada ketidak cocokan antara peserta didik dan guru
    3. Terkadang terjadi perselisihan antara peserta didik dengan peserta didik
    4. Tidak ada guru maka proses belajar dan mengajar tidak bisa terlaksana
    5. Harus menentukan waktu dan tempat untuk proses belajar mengajar

Demikianlah artikel tentang Model Pembelajaran Personal Humanistik. Semoga artikel ini bermanfaat dan apabila pembaca merasa terbantu mohon bagikan juga artikel ini pada yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

  • Abin Syamsuddin Makmun. (2003). Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
    Adi. (2011). Model-Model-Pembelajaran.
    http://adipilomidonat.blogspot.co.id/2011/12/model-model-pembelajaran.html
  • Alumni Smadangawi. (2009). Pengertian Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran.
    http://alumni.smadangawi.net/2009/06/28/pengertian-pendekatan-strategi-metode-teknik-taktik-dan-model-pembelajaran/. Diakses 10 September 2009.
  • Astiti Rahayu. (2014). Strategi Pembelajaran.
    http://rahayuastiti.blogspot.co.id/2014/04/strategi-pembelajaran.html
  • Aunurrahman. (2013). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
  • Burch, John. (1974). Information System Theory and Practice. New York
  • Dalyono, M. (2012). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega. (1990). Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
  • Desmita. (2009). Psikologi Perkembangan Peserta Didik; Panduan bagi Orang Tua dan Guru dalam Memahami Psikologi Anak Usia SD, SMP, dan SMA. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. h.44
  • Erlynch. (2009). Pendekatan pembelajaran humanistik.
    http://erlynch.blogspot.co.id/2009/05/pendekatan-pembelajaran-humanistik.html
  • Hamzah B. Uno. (2006). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Herpratiwi. (2009). Teori Belajar dan Pembelajaran. Bandar Lampung: Universitas Lampung.
  • Hoesnaeni. (2009). Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran.
    http://hoesnaeni.wordpress.com/2009/01/24/beda-strategi-model-pendekatan-metode-dan-teknik-pembelajaran/. Diakses 10 September 2009.
  • Idi, Abdullah. (2014). Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktik. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Indrawati & Sutarto. (2008). Studi tentang Kemampuan Mahapeserta didik Pendidikan Fisika
  • Mengimplementasikan Model Pembelajaran ke dalam RPP. FKIP Universitas Jember: Tidak diterbitkan.
  • Joyce, B, dan Weil, M. (1986). Models of Teaching. New Jersey: Prentie-Hall, Inc.
  • Joyce., B., Weil, M., & Shower, B. (1992). Models of teaching (4 th ed). Englewood Cliff, N.J: Prentice-Hall.