Guru Pembelajar

Salam jumpa, semoga sehat dan tetap semangat. Kali ini saya akan mencoba mereview salah satu topik dari materi Prof. Dr. H. Mohamad Surya tentang Guru Pembelajar. Baiklah kita langsung saja.

Lazada Indonesia

Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah sebagaimana tertuang dalam undang-undang Guru dan Dosen nomor 14 tahun 2005 pasal 1 ayat 1. Guru harus senantiasa beradaptasi dengan tantangan internal dan eksternal yang mengharuskan guru menjadi seorang pembelajar aktif yang kreatif dan inovatif. Dengan demikian bahwa seorang guru dalam tugas utamanya untuk mengajar, sekaligus sebagai pembelajar.

Pembelajaran dilakukan melalui berbagai cara seperti (1) melanjutkan studi pada jejang yang lebih tinggi (S-2 atau S-3), (2) mengikuti seminar, workshop, pelatihan, konferensi baik dalam maupun luar negeri, (3) menelaah berbagai sumber kepustakaan dan publikasi ilmiah lainnya, (4) melakukan penelitian, (5) membangun komunikasi sejawat, (6) berkonsultasi dengan pakar tertentu, dsb.

Guru sebagai orang dewasa, maka karakteristik pembelajarannya berbeda dengan remaja atau bahkan anak-anak. Guru sebagai pembelajar orang dewasa, memiliki karakteristik sebagai berikut :

1. Kecerdasan dan kearifan
Pembelajaran orang dewasa bukan puncak dari pembelajaran anak-anak dan remaja akan tetapi dilandasi oleh kecerdasan dan kearifan yang tidak terdapat pada anak-anak dan remaja. Kecerdasan pada anak dan remaja disebut fluid intelligence atau kecerdasan encer yang tergantung pada kapasitas fisiologis dan neurologis yang mencapai puncak pertumbuhannya pada masa remaja. Sedangkan kecerdasan pada orang dewasa disebut crystallized intelligence atau kecerdasan yang terkristalisasikan yang lebih banyak dipengaruhi oleh pendidikan dan pengalaman serta berfokus pada kemampuan memberikan timbangan, pengetahuan, dan pengalaman.
Dalam kaitan dengan guru sebagai pembelajar, kecerdasan yang menjadi landasan pembelajaran, tidak hanya ditentukan oleh aspek kecerdasan kognitif semata, akan tetapi ditentukan oleh pengalaman dan konteks sosok pribadi dan professional serta lingkungan kerjanya. Kecerdasan yang terbentuk karena pengaruh kehidupan interaksi sosial akan menunjang perkembangan aspek afektif, spiritual, dan hubungan pribadi. Hal yang lebih penting dalam kecerdasan guru ini adalah wisdom atau kearifan sebagai karakteristik pembelajaran orang dewasa. Kearifan ini merupakan satu bentuk kecerdasan praktis yang ditandai dengan adanya keseimbangan antara minat intrapersonal dengan minat interpersonal. Dengan demikian, guru yang arif akan mempertimbangkan pemahaman dan perasaan tertentu yang secara langsung terkait pada pemilikan dan perkembangan ketrampilan dan pemahaman yang diperlukan untuk kehidupan yang baik dalam mengambil keputusan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang baik.

2. Andragogi
Andragogi adalah pendidikan untuk orang dewasa yang mempunyai karakteristik berbeda dengan pedagogi atau pendidikan untuk anak-anak. Pembelajaran orang dewasa berlangsung dalam pola-pola andragogi yang terbangun di atas lima asumsi sebagai berikut :

  1. Orang dewasa memiliki kebutuhan psikologis untuk menjadi pembelajar yang mengarahkan diri sendiri (self-directed)
  2. Orang dewasa akan membawa simpanan pengalamannya dalam situasi pembelajaran yang dihadapinya
  3. Kesiapan orang dewasa untuk belajar dipengaruhi oleh satu kebutuhan untuk memecahkan masalah hidup nyata yang terkait dengan tugas-tugas perkembangan dewasa.
  4. Pembelajaran orang dewasa lebih berpusat pada kinerja yang berorientasi pada bentuk penerapan pengetahuan yang diperolehnya.
  5. Pembelajaran orang dewasa lebih banyak didorong oleh motif intrinsik

Dalam andragogi, guru sebagai pendidik bagi dirinya sendiri, dan sekaligus berperan sebagai peserta didik dengan karakteristik guru yang pada umumnya sebagai berikut :

  • telah bekerja dan bersifat sukarela atau terpaksa untuk belajar
  • telah memiliki pengalaman bekerja dan hidup.
  • telah lama meninggalkan pendidikan formal, sehingga kurang memiliki kebiasaan dan cara-cara belajar yang baru.
  • jarang menggunakan ide-ide yang abstrak
  • Lebih tertarik dalam situasi dan masalah dan tidak dalam pelajaran untuk ujian
  • tertarik pada pengetahuan sebagai alat bagi kebutuhan dirinya.

3. Self-directed learning
Pembelajaran orang dewasa lebih bersifat self-directed learning yaitu pembelajaran yang diarahkan oleh dirinya sendiri sesuai dengan minat dan tujuannya. Dalam kaitan dengan pengembangan profesi dan pribadi, seharusnya para guru memiliki kemampuan dan kemauan yang benar-benar disadari untuk senantiasa secara terus menerus belajar.
Self-directed learning akan menjadi sumber dinamika bagi para guru dalam melakukan pembelajaran untuk peningkatan kualitas pribadi dan profesinya. Dengan dinamika ini, maka para guru dapat membuat perencanaan pembelajaran secara lebih terarah sesuai dengan potensi dan pengalamanya masing-masing. Pembelajaran seperti ini menuntut adanya kemandirian, disiplin diri, kemampuan dalam manajemen waktu, kreativitas dalam memilih strategi pembelajaran, kerjasama dengan berbagai pihak, kompetensi komunikasi, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, dsb.

4. Transformational learning.
Transformational learning adalah proses pembelajaran yang bersifat transformasional artinya terjadi keterkaitan antara proses dan substansi yang dipelajari dengan keadaan lingkungan. Misalnya materi yang dipelajari oleh guru dalam suatu pelatihan akan diterapkan dalam tugasnya sehari-hari sebagai guru. Dengan demikian terjadi kesinambungan antara substansi yang dipelajari dengan penerapan dalam praktek sehari-hari, sehingga pembelajaran yang dilakukan merupakan peningkatan kualitas profesionalnya, dan pada gilirannya akan meningkatkan mutu pembelajaran.

5. Experiential learning
Experiential learning adalah proses pembelajaran yang berbasis pengalaman yang menjadi sumber belajar dan apa yang dipelajari menjadi bagian dari pengalaman. Pada umumnya pembelajaran yang dilakukan orang dewasa senantiasa terkait dengan pengalaman terutama yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran orang dewasa akan lebih berhasil apabila dilakukan dalam bentuk pembelajaran dalam pengalaman, dibandingkan dalam bentuk pembelajaran dari pengalaman. Hal ini mengandung makna bahwa terjadi keterpaduan antara pengalaman dan proses pembelajaran.

6. Holistic learning
Holistic learning atau pembelajaran holistik adalah proses pembelajaran yang bersifat utuh.baik dalam substansi maupun dalam strategi serta keterkaitan dengan lingkungan. Pada orang dewasa proses pembelajaran berlangsung secara terpadu antara pengalaman masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Demikian pula terjadi keutuhan proses dan hasil belajar dalam berbagai dimensi kehidupan. Pembelajaran yang dilakukan guru merupakan keutuhan dalam keseluruhan perwujudan peran-peran guru sebagai pribadi, unsur keluarga, unsur sekolah, unsur profesi, unsur masyarakat dan yang paling mendasar adalah unsur guru sebagai hamba Tuhan YME.

Demikian sekilas review tentang Guru Pembelajar, semoga review ini dapat membantu dan bermanfaat.