Model Pembelajaran Personal Humanistik-Non Directive

Diskon : Pond’s Acne:5%.Teh Daun Jati Cina:78%.Naturgo Masker Lumpur:70%.
Salam jumpa, semoga sehat dan tetap semangat. Kali ini saya akan mencoba berbagi informasi tentang Model Pembelajaran Personal Humanistik-Non Directive. Baiklah kita langsung saja.
Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara komponen – komponen sistem pembelajaran. Pembelajaran memiliki makna luas dari istilah pengajaran. Kata pengajaran mengandung makna bahwa kegiatan atau prosesnya hanya ada di dalam konteks pengajar dan pembelajar di kelas secara formal, kata pembelajaran tidak hanya ada dalam konteks pengajar dan pembelajar di kelas formal, akan tetapi juga meliputi kegiatan belajar mengajar yang tidak dihadiri oleh pengajar secara fisik. Di dalam kata pembelajaran ditekankan bahwa kegiatan belajar pembelajar melalui usaha – usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber – sumber belajar agar proses belajar mengajar dapat terlaksana. Pembelajaran sebagai sebuah system memiliki beberapa komponen, yaitu tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, strategi pembelajaran, media pemmbelajaran, evaluasi pembelajaran. Kegiatan pembelajaran merupakan bagian yang paling penting dalam implementasi kurikulum. Untuk mengetahui efektifitas dan efisiensi pembelajaran, dapat diketahui melalui kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran tersebut seorang pengajar sudah seharusnya mengetahui bagaimana membuat kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik dan dapat mencapai tujuan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien diperlukan adanya suatu inovasi untuk mengembangkan model – model pembelajaran yang dilakukan oleh pengajar Dalam mengembangkan model – model pembelajaran, seorang pengajar harus tahu apakah yang dimaksud dengan model pembelaran, dan pola – pola apa pembelajaran yang ada, kemudian apakah ciri – ciri model pembelajaran yang dapat diterima secara umum, serta bagaimana menerapkan model – model pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar
Berkaitan dengan cara atau metode apa yang akan dipilih dan digunakan dalam kegiatan pembelajaran, seorang guru harus terlebih dahulu memahami berbagai pendakatan, strategi, dan model pembelajaran. Pemahaman tentang hal ini akan memberikan tuntutan kepada guru untuk dapat memilah, memilih, dan menetapkan dengan tepat metode pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran.
Perlu dipahami bahwa setiap pendekatan pembelajaran memiliki pandangan yang berbeda tentang konsepsi dan makna pembelajaran, pandangan tentang guru, dan pandangan tentang siswa, perbedaan inilah kemudian mengakibatkan strategi dan model pembelajaran yang dikembangkan menjadi berbeda juga, sehingga proses pembelajaran akan berbeda walaupun strategi pembelajaran sama.
A. Pengertian Model Pembelajaran
Briggs (1978;23) menjelaskan, model adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses, seperti penilaian kebutuhan, pemilihan media, dan evaluasi. Sesuai dengan penjelasan tersebut, maka yang dimaksud dengan pengembangan model pembelajaran adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk melaksanakan pengembangan pembelajaran. Hasil akhir dari pengembangan pembelajaran ialah system pembelajaran, yaitu materi dan strategi belajar mengajar yang dikembangkan secara empiris yang secara konsisten telah dapat mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Pengembangan pembelajaran ini terdiri dari seperangkat kegiatan yang meliputi perencanaan, pengembangan dan evaluasi terhadap system pembelajaran yang sedang dikembangkan tersebut, sehingga setelah mengalami beberapa perbaikan system pembelajaran tersebut dapat memperoleh sustu hasil yang memuaskan. Pengembangan model pembelajaran adalah suatu usaha dalam mencari pemecahan masalah – masalah yang ada dalam kegiatan belajar mengajar, atau setidaknya usaha dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber belajar yang ada dalam upaya memperbaiki pelakasanaan suatu pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran bahasa Jepang dilakukan tentu saja dengan tujuan untuk mencari solusi dalam memecahkan masalah – masalah yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa Jepang.
Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip Pendidikan, teori-teori psikologis, sosiologis, psikiatri, analisis system, atau teori-teori lain (Joyce & Weil, 1980). Joyce & Weil (1980:1) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain.
B. Dasar Pertimbangan Pemilihan Model Pembelajaran
Sebelum menentukan model pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan guru dalam memilihnya, yaitu :
1. Pertimbangan terhadap tujuan yang hendak dicapai. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan adalah :
- Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenaan dengan kompetensi akademik, keperibadian, sosial dan kompetensi vokasional atau yang dulu diistilahkan dengan domain kognitif, afektif atau psikomotor?
- Bagaimana kompleksitas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai?
- Apakah untuk mencapai tujuan itu memerlukan keterampilan akademik?
2. Pertimbangan yang berhubungan dengan bahasa atau materi membelajaran:
- Apakah materi pembelajaran itu berupa fakta, konsep, hukum atau teori tertentu?
- Apakah untuk mempelajari materi pembelajaran itu memerlukan prasyarat atau tidak?
- Apakah tersedia bahan utuk sumber – sumber yang relevan untuk mempelajari materi itu?
3. Pertimbangan dari sudut peserta didik atau siswa
- Apakah model pembelajaran sesuai dengan tingkat kematangan peserta didik?
- Apakah model pembelajaran itu sesuai dengan minat, bakat, dan kondisi peserta didik?
- Apakah model pembelajaran itu sesuai dengan gaya belajar peserta didik?
4. Pertimbangan lainnya yang bersifat non teknis
- Apakah untuk mencapai tujuan hanya cukup dengan satu model saja?
- Apakah model pembelajaran yang kita tetapkan dianggap satu-satunya model yang dapat digunakan ?
- Apakah model pembelajaran itu memiliki nilai evektifitas atau efisien?
2.3 Ciri-Ciri Model Pembelajaran
Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip Pendidikan, teori-teori psikologis, sosiologis, psikiatri, analisis system, atau teori-teori lain (Joyce & Weil, 1980).
Joyce & Weil (1980:1) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Model pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Berdasarkan teori Pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu.
- Mempunyai misi atau tujuan Pendidikan tertentu.
- Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan KBM di kelas.
- Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan: (1) urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax), (2) adanya prinsip-prinsip reaksi, (3) system sosial, dan (4) system pendukung.
- Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran yang meliputi dampak pembelajaran dan dampak pengiring.
- Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya.
2.4 Model Personal Humanistik
Model ini merupakan model pengajaran yang menekankan pada proses mengembangkan kepribadian individu peserta didik dengan memperhatikan kehidupan emosional. Model ini banyak memusatkan pada usaha individu dalam menciptakan hubungan yang baik dengan lingkungannya.
Model personal menekankan pada pengembangan konsep diri setiap individu. Hal ini meliputi pengembangan proses individu dan membangun serta mengorganisasikan dirinya sendiri. Model memfokuskan pada konsep diri yang kuat dan realistis untuk membantu membangun hubungan yang produktif dengan orang lain dan lingungannya.
Model ini bertitik tolak dari teori Humanistik, yaitu berorientasi pada pengembangan individu. Perhatian utamanya pada emosional peserta didik dalam mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Model ini menjadikan pribadi peserta didik mampu membentuk hubungan harmonis serta mampu memproses informasi secara efektif. Tokoh humanistik adalah Abraham Maslow (1962), R. Rogers, C. Buhler dan Arthur Comb.
Menurut teori Humanistik ini, guru harus berupaya menciptakan kondisi kelas yang kondusif, agar peserta didik merasa bebas dalam belajar mengembangkan dirin baik emosional maupun intelektual. Teori humanistik timbul sebagai cara untuk memanusiakan manusia. Pada teori humanistik ini, pendidik seharusnya berperan sebagai pendorong bukan menahan sensivitas peserta didik terhadap perasaanya. Implikasi teori ini dalam pendidikan adalah sebagai berikut;
- Bertingkah laku dan belajar adalah hasil pengamatan.
- Tingkahlaku yang ada dapat dilaksanakan sekarang (learning to do)
- Semua individu memiliki dorongan dasar terhadap aktualisasi diri.
- Sebagian besar tingkah laku individu adalah hasil dari konsepsinya sendiri.
- Mengajar adalah bukan hal penting, tapi belajar bagi peserta didik adalah sangat penting.
- Mengajar adalah membantu individu untuk mengembangkan suatu hubungan yang produktif dengan lingkungannya dan memandang dirinya sebagai pribadi yang cakap.
2.5 Rumpun Personal Humanistik
Model pembelajaran yang termasuk dalam bagian model Model Personal humanistic adalah sebagai berikut:
C. Pengertian Model Pembelajaran Non Directive
Model pembelajaran non directive atau yang lebih dikenal dengan model pembelajaran tidak langsung yaitu suatu proses membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik tanpa arahan dari guru , atau biasa disebut dengan pembelajaran tidak langsung . Model ini dikemukakan oleh Carl Rogers . Dalam pengajaran seharusnya didasarkan pada konsep-konsep hubungan manusiawi diri pada konsep-konsep bidang studi, proses berpikir atau sumber-sumber intelektual lainnya. Menurut model ini guru berperan sebagai fasilitator dan membantu siswa menjelajahi ide-ide baru tentang hidupnya, tugas sekolahnya dan kehidupan dengan teman-temannya.
Peran guru dari pengajaran non-direktif adalah sebagai fasilitator bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa.
Model ini berasumsi bahwa siswa mau bertanggungjawab atas proses belajarnya dan keberhasilannya sangat tergantung kepada keinginan siswa dan pengajar untuk berbagi gagasan secara terbuka dan berkomunikasi secara jujur dan terbuka dengan orang lain.
Metode ini dikembangkan untuk membuat pendidikan menjadi suatu proses yang aktif bukan pasif. Cara belajar ini dilakukan agar para siswa mampu melakukan observasi mereka sendiri, mampu mengadakan analisis mereka sendiri, dan mampu berpikir sendiri. Mereka bukan hanya mampu menghafalkan dan menirukan pendapat orang lain. Juga dapat merangsang para siswa agar berani dan mampu menyatakan dirinya sendiri aktif, bukan hanya menjadi pendengar yang pasif terhadap segala sesuatu yang dikatakan oleh guru. Siswa diizinkan untuk meneliti sendiri dari perpustakaan, ataupun kenyataan di lapangan. (Roestiyah , 2008 : 156)
Guru hanya memberi pokok-pokok tugas yang telah tersusun sehingga dengan tugas tersebut siswa dapat melaksanakan beberapa hal sebagai berikut :
1. Observasi pada objek pelajaran
2. Menganalisa fakta yang dihadapi
3. Menyimpulkan sendiri hasil pengamatannya
4. Menjelaskan apa yang telah ditemukan
5. Membandingkan dengan fakta yang lain.

Guru hanya memberi permasalahan yang merangsang proses berpikir siswa, sehingga objek belajar itu berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan yang digalinya, aktif berpikir dan menyusun pengertian yang baik. (roestiyah , 2008 : 157 )
Peran guru dalam model pembelajaran ini adalah sebagai fasilitator. Karena itu guru hendaknya mempunyai hubungan pribadi yang positif dengan siswanya, yaitu sebagai pembimbing bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam menjalankan perannya ini, guru membantu siswa menggali ide/gagasan tentang kehidupannya, lingkungan sekolahnya dan hubungannya dengan orang-orang lain. Model ini menggambarkan konsep yang dikembangkan oleh Carl Roger untuk konseling non-direktif, dimana kapasitas klien untuk memperlakukan kehidupannya secara konstruktif sangat ditekankan. Dengan demikian, didalam pengajaran non-direktif guru sangat mempedulikan kemampuan siswa untuk mengidentifikasi masalah-masalahnya dan merumuskan solusi-solusinya.
Pengajaran non-direktif cenderung bersifat berfokus kepada siswa dimana fasilitator berusaha untuk melihat dunia sebagiamana siswa melihatnya. Hal ini akan menciptakan suasana komunikasi yang empathetic dimana pengendalian diri siswa dapat dipupuk dan dikembangkan.
Guru juga berperan sebagai benevolent after ego, dimana ia menerima semua perasaan dan pemikiran, bahkan dari siswa yang memiliki pendapat keliru. Disini guru secara tidak langsung berkomunikasi dengan siswa bahwa semua pendapat dan perasaan bisa diterima.
D. Orientasi Model
Sebelumnya perlu disampaikan disini bahwa yang dimaksud dengan non-direktif adalah tanpa menggurui. Model pengajaran non-direktif merupakan hasil karya Carl Roger dan tokoh lain pengembang konseling non-direktif.
Peran guru dalam model pembelajaran ini adalah
- Guru membantu siswa menggali ide/gagasan tentang kehidupannya,
- Lingkungan sekolahnya dan
- Hubungannya dengan orang-orang lain.
Model ini menggambarkan konsep yang dikembangkan oleh Carl Roger untuk konseling non-direktif, dimana kapasitas klien untuk memperlakukan kehidupannya secara konstruktif sangat ditekankan.
Pengajaran non-direktif cenderung bersifat berfokus kepada siswa dimana fasilitator berusaha untuk melihat dunia sebagiamana siswa melihatnya.
Guru juga berperan sebagai benevolent after ego, dimana ia menerima semua perasaan dan pemikiran, bahkan dari siswa yang memiliki pendapat keliru.
Teknik utama untuk mengembangkan hubungan yang fasilitatif adalah dengan wawancara non-direktif, suatu rangkaian pertemuan face to face antara guru dengan siswa.
Menurut Roger, suasana wawancara terbaik memiliki empat kualitas, antara lain:
- Guru menunjukkan kehangatan dan tanggap
- Hubungan konseling dicirikan oleh rasa permisif yang ditunjukkan oleh ekspresi
- Siswa bebas mengekspresikan pendapatnya, namun dalam batasan bahwa ia tidak bebas untuk mengendalikan guru atau melakukan gerak hatinya dengan tindakan-tindakan yang tidak dibenarkan.
Didalam wawancara non-direktif, guru menginginkan siswanya untuk bisa melewati empat tahap pertumbuhan personal:
- Pelepasan perasaan
- Pemahaman yang diikuti oleh
- Tindakan, dan
- Integrasi
E. Syntax Model Non-Direktif
Roger menyimpulkan bahwa interview non direktif mempunyai sebuah rangkaian, meskipun tidak stabilnya dan tak terprediksinya strategi nondirektif. Kita telah membagi rangkaian ini ke dalam lima tahap kegiatan.

a. Tahap Satu
Tahap satu ditetapkan bantuan situasi. Tahap ini menyertakan susunan kata – kata konselor yang mendefinisikan kebebasan siswa untuk mengekspresikann perasaan, sebuah argumen yang fokus pada interview umum, sebuah permulaan pernyataan permasalahan, dan beberapa pembahasan dari suatu hubungan jika hal ini terjadi secara terus menerus, dan menetapkan prosedur pertemuan.
b. Tahap Dua
Siswa dianjurkan untuk menerima dan mengklarifikasi yang dimiliki oleh guru mengungkapkan perasaan positif dan negatif guna untuk mengeksplor dan menetapkan permasalahan.
c. Tahap Tiga
Siswa mengembangakan wawasan secara terus menerus; dia mersakan pemahaman baru dalam pengalamannya, melihat hubungan baru dari penyebab dan dampaknya, serta memahami pengertian dari perilaku sebelumnya.
d. Tahap empat
Siswa bertindak terhadap perencanaan dan pembuatan keputusan dengan cara menghargai permasalahan. Peran guru untuk mengklarifikasi alternatif.
e. Tahap Lima
Siswa melaporkan tindakan yang telah diambil, mengembangkan wawasan selanjutnya, dan merencanakan kejadian yang positif dan lebih menyatu secara meningkat.
Syntax yang diberikan di sini dapat terjadi dalam satu interview atau dalam sebuah seri interview. Lima tahap interview nondirektif menyediakan guru dengan sebuah ringkasan proses yang digunakan di dalamnya, meskipun arus spesifik yang dimiliki guru secara minimal hanya dalam hal kontrol. Syntax berbeda dengan perbedaan fungsi, permasalahan dan kepribadian.
F. Asumsi Pengajaran Non Direktif
Carlg Rogers sebagai tokoh Model Pengajaran Non Direktif ini bertolak dari asumsi psikologis yaitu bahwa setiap individu dapat menangani sendiri situasi kehidupannya dengan cara konstruktif. Asumsi ini mempunyai arti bagi seorang konselor yang harus respek atas kemampuan konseling dalam mengidentifikasikan dan merumuskan pemecahan-pemecahan masalahnya. Rogers sebagai seorang Theraphist mengembangkan beberapa prinsip atau hipotesis yang bersumber pada prinsip konsep dasar yakni “Student Centred Teaching”, jadi mengajar harus bertumpu dan berpusat kepada siswa.
G. Prosedur Pembelajaran
Teknik utama dalam mengaplikasikan model pembelajaran pengajaran tidak langsung adalah apa yang diistilahkan oleh Roger sebagai Non-directive Interview atau wawancara tanpa menggurui, yaitu wawancara tatap muka antara guru dan siswa.
Kunci utama keberhasilan dalam menerapkan model ini adalah kemitraan antara guru dan siswa. Menurut Rogers, iklim wawancara yang dilakukan oleh guru harus memenuhi empat syarat yaitu:
- Guru harus mampu menunjukkan kehangatan dan tanggap atas masalah yang dihadapi siswa dan memperlakukannya sebagaimana layaknya manusia,
- Guru harus mampu membuat siswa dapat mengekspresikan perasaanya tanpa tekanan dengan cara tidak memberikan penilaian (mencap salah atau mencap buruk),
- Siswa harus bebas mengekspresikan secara simbolis perasaanya, dan
- proses konseling (wawancara) harus bebas dari tekanan;
H. Aplikasi
Model Pembelajaran Pengajaran Tidak Langsung (tanpa menggurui) bisa digunakan untuk berbagai situasi masalah, yaitu :
1. Pribadi
Dalam masalah pribadi, siswa menggali perasaannya tentang dirinya.
2. Sosial
Dalam masalah sosial, ia menggali perasaannya tentang hubungannya dengan orang lain dan menggali bagaimana perasaan tentang dirinya tersebut berpengaruh terhadap orang lain.
3. Akademik
Dalam masalah akademik, ia menggali perasaannya tentang kompetensi dan minatnya.
I. Kelebihan dan Kekurangan Model Non-Direktif
Kelebihan:
• Mendorong ketertarikan dan keingintahuan peserta didik,
• Menciptakan alternatif dan menyelesaikan masalah,
• Mendorong kreativitas dan pengembangan keterampilan interpersonal dan kemampuan yang lain,
• Pemahaman yang lebih baik,
• Mengekspresikan pemahaman
Kekurangan :
• Membutuhkan waktu yang lebih banyak
• Klien sulit menceritakan masalah yang dihadapinya
• Menuntut klien untuk bersikap dewasa dalam menentukan pemecahan masalah yang dihadapi
• Klien sulit memahami masalah yang dihadapinya
Demikianlah artikel tentang Model Pembelajaran Personal Humanistik-Non Directive. Semoga artikel ini bermanfaat dan apabila pembaca merasa terbantu mohon bagikan juga artikel ini pada yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
- Roestiyah. Cetakan VII: 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
- http://wawan-junaidi.blogspot.com
- http://ndhiroszt.multiply.com
- http://laily-myblog.blogspot.com


